Thursday, June 14, 2018

World Cup 2018 - Klub Pemasok Pemain Terbanyak Di Piala Dunia 2018

Daftar Klub Pemasok Pemain Terbanyak di Piala Dunia 2018

Real Madrid menjadi penyuplai pemain terbanyak kedua di Piala Dunia 2018.




Lalu tim mana yang jadi yang pertama?

Seluruh tim peserta Piala Dunia 2018 telah menetapkan 23 pemain untuk berlaga di Rusia.

Dengan adanya 32 tim peserta maka terdapat 736 pemain yang terdaftar di Piala Dunia 2018.

Manchester City menjadi klub dengan pemasok pemain terbanyak di kompetisi akbar tersebut, yakni 16 pemain.

The Citizens tidak memiliki wakil di grup A dan H.

David Silva (Spanyol), dan Bernardo Silva (Portugal) menjadi wakil Manchester Biru akan bertarung di grup B.

Benjamin Mendy (Prancis) menjadi pemain Manchester City yang berlaga grup C, sementara Sergio Aguero dan Nicolas Otamendi (Argentina) berada di grup D.

Adapun Fernandinho, Danilo, dan Ederson Moraes (Brasil) akan bertanding di grup E, sedangkan Ilkay Guendogan (Jerman) ada di grup F.

Mayoritas para anak asuh Pep Guardiola berlaga di Grup G, yaitu Kevin De Bruyne, Vincent Kompany (Belgia), Raheem Sterling, John Stones, Kyle Walker, dan Febian Delph (Inggris). Real Madrid (15 pemain) dan Barcelona (14) menempati posisi kedua dan ketiga klub pemasok pemain terbanyak di ajang empat tahunan itu.

Mayoritas pemain kedua tim merupakan pilar timnas Spanyol.

Tidak kurang dari 10 pemain kedua tim berseragam tim Matador.

Marco Asensio, Isco Alarcon, Dani Carvajal, Sergio Ramos, Nacho Fernandez, dan Lucas Vazquez di kubu Real Madrid.

Sementara Barcelona diwakili oleh Andres Iniesta, Gerard Pique, Jordi Alba, dan Sergio Busquets.

Berikut daftar lengkap klub-klub penyumbang pemain di Piala Dunia 2018.

16 - Manchester City
15 - Real Madrid
14 - Barcelona
12 - PSG, Tottenham, Chelsea
11 - Bayern München, Juventus, Man Utd
9 - Al Hilal, Al Ahly, Atletico Madrid
7 - Liverpool, AS Monaco, Leicester City
Sumber: tribunnews

World Cup 2018 - Pemerintan Australia Boikot Pembukaan Piala Dunia 2018

Pemerintah Australia memutuskan tidak akan mengirimkan delegasi pejabatnya pada pembukaan Piala Dunia 2018 di Rusia 14 Juni mendatang. Australia mengikuti langkah pemerintah Inggris yang sudah mengumumkan memboikot turnamen itu.




Pertandingan pembuka dan terakhir Piala Dunia biasanya dihadiri para kepala negara serta pemerintahan. Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop menyatakan tidak akan ada wakil pemerintah Australia yang ke Rusia untuk turnamen itu. "Pemerintah Australia tidak akan mencampuri keputusan Federasi Sepak Bola Australia dalam kaitannya dengan Piala Dunia," kata Bishop seperti diberitakan laman Sky, Kammis (7/6/2018). "Duta Besar Australia untuk Moskow yang akan menyaksikan pertandingan-pertandingan Socceroos (sebutan timnas Australia)," sambung dia.

Australia menentang pelanggaran HAM yang dilakuan Rusia, termasuk aneksasi Semenanjung Krimea dari Ukraina pada 2014.Bulan lalu, Bishop menuduh pemerintah Rusia terlibat langsung dalam penembakan jatuhnya Malaysian Airlines penerbangan MH17 yang juga terjadi pada 2014 yang menewaskan 38 warga Australia.

Australia tergabung di Grup C pada Piala Dunia 2018 di Prancis. Socceroos akan bersaing dengan Prancis, Denmark, dan Peru.

Australia akan melawan tim kuat Prancis pada laga pembuka, 16 Juni mendatang. Setelah itu, mereka akan bertemu Denmark dan menghadapi Peru di laga terakhir.

Sumber: liputan6

Social Cost: Ini Yang Bikin Pengeluaran Lifestyle Membengkak!

Pengeluaran ini yang diam-diam menggerogoti gaji kita! 
Hidup di kota besar itu mahal—mahal gengsi dan lifestyle-nya.

Tapi, gue udah banyak hemat, kok. Begitu kata Keisha.

Ia menjabarkan, dalam setahun hanya liburan dua kali bareng suami dan anak-anak. Salah satunya bahkan cuma staycation… ehem, di hotel bintang lima bilangan Kuningan.

Tapi, tetap aja beda banget dengan teman-teman segengnya yang dengan enteng titip anak di mertua lalu ke Labuan Bajo selama dua minggu.

Pesta dan seseruan? Paling pas ultah Ezra dan Naima, kedua anaknya yang masih TK dan playgroup.
Shopping? Duh, sekarang bisa dihitung pake jari banget! Entah sudah berapa kali ia melewatkan ZARA sale.
Keisha merasa hidupnya nggak jauh berbeda dengan keluarga kebanyakan. Tapi, kok susah banget sih menyisihkan gaji?
Padahal, menurut Keisha selama ini pengeluaran keluarga, terutama pengeluaran lifestyle, cukup terkontrol.

Yang Keisha alami sama seperti kita semua. Merasa uang cukup—bahkan masih tersisa banyak—padahal sebenarnya sudah sekarat.
Ada bocor-bocor kecil dalam keuangan yang nggak terasa, nggak terekam dalam cashflow.
Kenapa bisa sampai nggak terekam?

Karena nominal dan urgency-nya dianggap tak seberapa.

SPP anak-anak dan biaya berlangganan internet pasti tercatat dong pada kolom cash out. 

Namun, bagaimana dengan biaya beli kopi dan cemilan di Tuku—tiap hari? Saking rutinnya, Keisha merasa hal tersebut nggak berdampak pada keuangan
😂
Padahal, kenyataannya tidak seperti itu.
Money habit kita selama ini, sadar maupun tidak, menjadi penentu berapa uang tersisa di tabungan serta berapa banyak uang tersebut akan berkembang di kemudian hari.
Salah satu money habit yang sering kali tidak disadari adalah “bocor”-nya social cost. 
Duh, apa pula social cost ini?

Saya mendefinisikan social cost sebagai pengeluaran-pengeluaran yang menyokong kita dalam bersosialisasi. Jadi, bisa dikatakan bahwa social cost termasuk dalam pengeluaran lifestyle.
Dalam hal ini, Keisha memang juaranya!

Tiap hari ia membeli kopi Tuku tak hanya untuk konsumsi pribadi di rumah maupun kantor, tapi juga buat “amunisi” saat arisan, pengajian, playdate Ezra dan Naima di taman kota, sampai renang di club house kompleks.

Itu baru soal kopi. Belum dining dengan teman segeng Keisha sejak SMA yang dilakukan tiap sebulan sekali. Pilihannya nggak jauh dari kafe-kafe di jalan protokol yang memang dekat dengan kantor mereka.  Intinya, kalau dijabarkan secara mendetail, biaya-biaya lifestyle yang masuk dalam kategori social cost ternyata banyak… dan nggak terasa!

Setelah tahu definisi umum social cost, kita jadi tahu dong pengeluaran dan biaya apa saja yang termasuk di dalamnya 😄 Ini sederetan social cost yang kerap terlewat:
  • Biaya playdate anak-anak
  • Biaya kongko bareng teman, keluarga, dan kolega
  • Biaya pesta dan perayaan (ultah anak, ultah teman anak, bachelorette party, baby shower, dan masih banyak lagi. Iya… banyak!)
  • Biaya beli kado untuk pesta dan perayaan (nggak mungkin ‘kan datang ke sana dengan tangan kosong!)
  • Biaya arisan
Nah, sebagai makhluk sosial nggak mungkin dong kita menolak ajakan bersosialisasi di atas demi memangkas pengeluaran lifestyle. Tapi, kalau diikuti semua, bisa-bisa kita malah bangkrut atau berakhir dengan utang.

Oleh karena itu, coba deh terapkan beberapa kiat berikut agar kita tetap bisa menyeimbangkan antara social cost dan kebutuhan sehari-hari:

1. Tentukan prioritas social cost 

Tidak semua ajang sosialisasi mesti dihadiri. Urutkan berdasarkan prioritasnya dan hanya ikuti beberapa yang paling penting tiap bulannya.

2. Buat perencanaan

Selain menentukan skala kepentingan atau prioritas, coba siapkan dana tak terduga untuk memenuhi kebutuhan ini.

3. Beli barang berkualitas dengan harga miring

Ketika menyadari ada sederet tanggal ulang tahun orang-orang tersayang bulan depan, saya akan mencari info promo dan sale untuk hunting kado-kadonya. Dengan begini, jatuhnya akan jauh lebih hemat!

4. Eat first 

Saat diajak teman lama yang selama ini susah banget bertemu untuk dining di tempat favorit jaman dulu (namun price list-nya $$$$), coba akali dengan makan lebih dulu di rumah. Jadinya di sana kita tinggal memesan dessert dan minuman saja.

Teorinya terkesan mudah, tapi menjalaninya cukup sulit. Apalagi kita dituntut untuk bisa tarik-ulur soal budgeting. Tapi, percaya deh… dengan seringnya berlatih, kita bisa dengan cepat beradaptasi dan menguasainya.

Jika pengeluaran lifestyle memiliki sisa uang berarti untuk investasi bisa dikendalikan, kita pun jadi maupun melunasi cicilan penting seperti kredit kendaraan maupun KPR.

Social cost apa yang paling menggerogoti keuanganmu saat ini?


FanPage Taste Of Knowledge

Popular Posts

My Twitter