Tuesday, October 27, 2009

Pasar Tradisional Yang Terabaikan


Kondisi diindonesia saat ini telah dilalui oleh Negara jepang beberapa tahun yang lalu. Kondisi dimana terjadi metamorphosis genetika oleh pasar modern besar yang memecah kecil-kecil perusahaan nya menjadi kecil. Misalnya salah satu pasar swalayan (pasar modern) ALFA yang sekarang membelah diri menjadi ALFA midi, ALFA ekspres dan alfa dengan jeni-jenis yang lain. Kondisi ini sedikit banyak meresahkan para pemilik kios, lapak, atau media jualan lainnya dipasar tradisional. Sekarang masyarakat lebih cenderung memilih didalam ruangan yang ber-AC dengan segala macam kenyamanan yang diberikan oleh karyawan-karyawan di pasar modern itu.
Jika salah satu keluarga kita tidak merupakan salah satu sosok yang bekerja didalam pasar tradisional tersebut mungkin kita akan sulit merasakan kesulitan mereka dalam bersaing dengan pasar modern belakangan ini. Ada yang berpandangan bahwa pemilik pasar modern mereka tidak salah, karena mereka pada dasarnya seorang pebisnis itu memiliki tujuan untuk mendapatkan profit dan pemerintah disini juga tidak salah karena jika dia mengijinkan tumbuhnya pasar modern dengan menjamur begini maka pemerintah akan mendapatkan pajak yang tinggi, jika pajak yang tinggi maka pemerintah akan mendapatkan penghargaan atas tingginya pajak yang diraih. Pandangan inilah yang tidak memperhatikan para penjual dipasar tradisional, mereka seakan sengaja dikucilkan atau tersisihkan oleh kerasnya hidup jaman sekarang. Mungkin yang berpandangan seperti ini lupa bahwa pertumbuhan ekonomi diindonesia itu ditopang dari usaha mikro menengah.
Benar, dimana peran serta pemerintah untuk pro kepada rakyat kecil para (para pemilik lapak dipasar tradisional), mereka seakan tidak seimbang dengan pasar modern untuk bersaing dimasyarakat. Disinilah ketimpangan sosial terlahir dan dilahirkan oleh pemerintah itu sendiri. Mereka lebih memilih untuk menghidupkan para pemilik pasar swalayan dengan melupakan para pemilik lapak. Melupakan? Yaa.. tentang masalah akses atau jalan yang menjadi kendala, masalah kebersihan, keamanan, kenyamanan juga maih jauh dari harapan, sehingga dengan begitu muncul kekhawatiran konsumen akan meninggalkan pasar tradisional. Banyak bentuk kepedulian pemerintah yang belum menyentuh kepasar tradisional. Jika, ada perhatian dan sentuhan tangan dari pemerintah tersebut, mungkin masyarakat akan lebih memilih untuk berkunjung pasar tradisional.
Namun, janganlah sampai menunggu uluran tangan pemerintah untuk berkunjung kepasar tradisional. Mari kita bersama berkunjung kepasar tradisional karena jika bukan kita yang bantu menghidupi mereka, siapa lagi?

Monday, October 26, 2009

Pilih Printer Yang Cocok Di Hati



Terobosan - terobosan baru untuk menghasilkan kualitas cetak yang cepat dan sempurna terus dikembangkan oleh para produsen printer di dunia. Dengan kelebihannya masing-masing, produsen printer berusaha menggaet calon konsumen agar mau membeli produk dengan fitur-fitur yang disandangnya. Hal inilah yang kemudian kerap membuat bingung calon pembeli dalam memilih printer mana yang baik untuknya.

Bagi sebagian orang, memilih printer untuk dirumah maupun di kantor merupakan masalah tersendiri yang sulit dicari jalan keluarnya. Banyaknya merek, bentuk dan kelebihan printer justru semakin membuat calon pembeli kebingungan. Padahal asalkan cermat dalam memilih dan tahu apa saja yang perlu dipertimbangkan, kebingungan itu seharusnya tidak lagi datang, berikut beberapa pertimbangan yang bisa dipakai sebelum membeli.

Yang utama adalah memperhatikan teknologi printer macam apa yang pas dengan kebutuhan. Dewasa ini ada tiga jenis printer yang banyak beredar di pasaran yaitu inkjet, laser dan multi fungsi setelah sebelumnya teknologi printer yang digunakan menggunakan pita yang kini sudah banyak ditinggalkan.

Secara umum printer inkjet – dengan harga yang relatif terjangkau menawarkan kualitas cetak yang bagus untuk teks, namun kalau untuk mencetak gambar jenis printer ini dinilai masih kurang dibandingkan laser. Tapi tak perlu khawatir karena dengan teknologi yang ada, saat ini jenis printer khusus yang mampu mencetak setara dengan foto professional sudah ada.

Berbeda dengan inkjet yang cocok digunakan untuk dirumah atau dikantor kecil, printer laser dinilai lebih cocok digunakan dikantor atau sebuah jaringan besar yang mengutamakan kecepatan, efisiensi dan kualitas yang tinggi dalam hal cetak mencetak. Kemampuannya yang sanggup mencetak dokumen dengan kualitas tinggi baik itu teks maupun gambar membuat kantor-kantor besar dengan jaringan yang luas menggunakan printer laser.

Jenis printer lain yang menyandang teknologi terbaru adalah printer multifungsi. Dari namanya saja sudah tergambar bahwa dia tidak hanya diperuntukkan untuk mencetak tapi juga sanggup melakukan scan, foto kopi, dan fax.

Setelah menentukan jenis printer, selanjutnya adalah melihat resolusi printer, selanjutnya adalah melihat jumlah dot per inch (dpi) yang mampu dicetak printer. Semakin besar angka, semakin detil pula hasil cetakannya. Sedangkan yang terakhir adalah kecepatan printer dalam mencetak yang diukur dari PPM (pages per minute) sama seperti resolusi, semakin besar angka PPM, semakin cepat pula printer dalam mencetak.


Tuesday, September 29, 2009

Opini - Legalisir Ijazah Pake Biaya ??

Seorang yang telah lulus dalam sebuah jenjang pendidikan pasti memiliki ijazah, dan ijazah itu pasti akan digunakan untuk melanjutkan kejenjang pendidikan berikutnya atau untuk keperluan lainnya. Nah, sekarang saya ingin sedikit membahas tentang pembayaran administrasi dalam legalisir ijazah di itu "legal atau tidak" sih? ..

Sudah bukan rahasia lagi kalau setiap kita melakukan legalisir disekolah,dikampus maka ada sedikit (yang katanya) biaya administrasi, entah itu akan masuk kekantong siapa semua biaya yang dibebankan kesetiap orang tersebut. Berbagai nominal untuk biaya (yang katanya) administrasi itu dibebankan kepada si pemilik ijazah itu, mulai dari 5.000 perak/10 lembarnya sampai 2.000 perak/1 lembarnya, coba bayangkan kalau yang kita ingin legalisir itu tidak hanya Ijazah yang berarti lebih besar pula biayanya, namun untuk seukuran orang yang berkecukupan(haha..bagaimana ngukur orang yang berkecukupan) mungkin tidak berarti beberapa ribunya dikeluarkan dari kantongnya untuk sebuah keabsahan sebuah fotocopyan, namun untuk orang yang pas-pasan (nah..bagaimana lagi cara ngukurorang yang pas-pasn ini) 20.000 perak itu bisa menghidupi beberapa hari kedepan..

Sebenarnya (yang katanya) biaya administrasi itu sebenarnya sah atau tidak sih? dulu saya sempat mendengarkan alasan mengapa adanya (yang katanya) biaya administrasi kalau itu adalah "uang lelah" untuk mereka yang telah mengurus legalisir pemilik ijazah, mendengar jawaban itu saya pun berkata dengan teman disamping saya "kalau memang ndak mau lelah dalam bekerja, ya jangan kerja dong, kalian kan sudah digaji oleh sekolah". Dari sini saya dapat menarik kesimpulan kalau (yang katanya) biaya administrasi itu tidak sah, karena keputusan untuk memungut biaya untuk legalisir tersebut dilakukan oleh sepihak, yang entah itu dari pihak pegawainya maupun dari pihak sekolahnya. Setau saya tidak ada sebait peraturan pun yang membenarkan adanya pungutan (yang katanya) biaya administrasi.
"Kebenaran adalah kesalahan yang berulang-ulang"
Mungkin itu yang dapat saya katakan disini, karena ternyata kesalahan yang berulang setiap waktu tentang adanya (yang katanya) biaya administrasi itu telah dibenarkan oleh pihak sekolah dan si pemilik ijazah karena dia telah dibudayakan melakukan pembayaran tersebut sejak dijenjang pendidikan sebelumnya. Apakah kebudayaan ini akan kita pertahankan? Kesalahan yang merugikan orang yang tak mengerti peraturan.
(yang katanya) biaya administrasi

FanPage Taste Of Knowledge

Popular Posts

My Twitter