SURABAYA, KOMPAS.com--"Film maker" indie muda Surabaya, Arik Rahman, menegaskan bahwa film pendek telah menjadi corong Indonesia di berbagai forum dunia.
"Itu karena banyak film pendek yang dibikin para film maker indie yang mendapat perhatian festival di forum internasional, meski tidak bisa masuk gedung-gedung bioskop," katanya di Surabaya, Kamis.
Pemilik "Warung Buku" dan "Film Tang Lebun" itu mengemukakan hal itu dalam orasi "Satu7an" yang digelar Perpustakaan Dbuku Bibliopolis, Royal Plaza, Surabaya setiap tanggal 17 pada setiap bulan.
Menurut dia, film pendek Indonesia bergerak di luar industri film yang ada, karena pergerakan film pendek Indonesia dianggap tidak menarik, namun berbagai festival di luar negeri justru memberi perhatian dan bahkan penghargaan.
"Jadi, Film Pendek Indonesia dapat dikatakan telah menjadi sebuah corong bagi Film Indonesia atau film-film ’mainstream’ yang kurang berbicara di forum internasional," katanya.
Kini, perkembangan teknologi yang ada mendorong produksi film pendek menjadi sangat luas, tak terbatas, dan sangat memasyarakat, terutama di kalangan anak muda.
"Sayangnya, produksi film pendek Indonesia saat ini masih tidak dapat lepas dari permasalahan distribusinya, baik bagi publik umum maupun bagi mereka yang tertarik untuk memproduksinya," katanya.
Bagi mereka, akses untuk dapat menonton film pendek di Indonesia masih terbatas karena berkaitan dengan akses informasi mengenai jalur-jalur promosi maupun distribusi yang selain festival.
"Padahal, permasalahan distribusi ini memiliki peranan penting bagi keberlangsungan produksi film pendek itu sendiri. Namun, anak-anak muda pecinta film-film pendek ini menciptakan jalur distribusinya sendiri," katanya.
Biasanya "film maker" bertindak sebagai pemilik dan distributor dari filmnya. Setelah film pendek selesai diproduksi, maka "film maker" mengirimkan ke ajang festival-festival film nasional maupun internasional.
"Kalau di Indonesia sendiri sudah mulai banyak festival di berbagai kota di Pulau Jawa, Sumatra, dan bahkan di Kalimantan. Ada juga para film maker yang membuat VCD atau DVD untuk diperjualbelikan. Selain itu, banyak juga yang menyebarkan di situs-situs internet," katanya.
Hal itu dipilih, karena jalur distribusi yang resmi bagi publik umum (bioskop) belum bisa digunakan film pendek, sebab format pemutarannya berupa film 35 mm.
"Itu kecuali empat film pendek yang disponsori produk sabun yang berhasil masuk jaringan bioskop 21 dan delapan film pendek yang disponsori produk rokok yang tiap tahun ditayangkan di TV, karena sponsor mendanai dari produksi hingga pemutaran di bioskop dan TV," katanya.
Tapi, kini telah hadir sebuah jaringan bioskop baru "Blitzmegaplex" yang memungkinkan untuk memutarkan film dalam format digital di luar format film 35 mm, walaupun masih terbatas di Jakarta dan Bandung.
Selain itu, gerakan film pendek juga memiliki "bioskop alternatif" seperti Kineforum di Taman Ismail Marzuki (TIM)Jakarta, Kineruku di Bandung, Kinoki di Yogyakarta, C2O dan Tang Lebun di Surabaya, dan Minikino di Bali.
"Tempat-tempat itu khusus memutar film-film alternatif dari film standar yang diputar di jalur utama film. Karena pemutaran di sana bersifat rutin, pasti membutuhkan banyak program film dan ini membuka peluang bagi film pendek," katanya.
Selain itu, komunitas film pendek telah tumbuh subur sejak tahun 2000 yang mencoba membuat secara rutin pemutaran film pendek (sebulan sekali) dan terdapat pula komunitas film yang tidak terlalu rutin memutar film, namun mreka cukup aktif mendukung produksi dan pemutaran di kota masing-masing.
"Muncul pula kine klub-kine klub di berbagai universitas hampir di seluruh Indonesia. Siklus pergerakan itu banyak berpengaruh pada pertumbuhan film berikutnya, baik ide, visi, metode penciptaan, teknis hingga jangkauan masuk dalam sistem industri," katanya.
Source : Kompas.Com
Let's Share Knowledge... Lebih Baik Hidup Dengan Banyak Warna, Dari Pada Hidup Dengan Satu Warna!!!
Thursday, March 17, 2011
Tweet Pertama Dikirim 10 Tahun Lalu?
LONDON - Pekan ini, Twitter merayakan ulang tahun kelima. Namun, salah satu pendiri perusahaan Jack Dorsey mengaku, 'tweet' pertama sebenarnya dikirimkan lima tahun sebelum situs mikroblogging itu dibentuk.
Dorsey mengirimkan tweet pertamanya pada 21 Maret 2006 yang berisi 'hanya menyiapkan twttr saya'. Meski demikian, kepada Telegraph, Kamis (17/3/2011), Dorsey mengaku sebenarnya mengirim ‘tweet’ pertamanya, lima tahun sebelumnya.
"Ketika saya masih muda, saya terobsesi dengan peta. Pada usia 14, saya belajar membuat software untuk perusahaan penyedia informasi lokasi agar supir taksi bisa memberitahu penumpang lokasi mereka," cerita Dorsey.
"Kemudian, pada 2001, ketika saya bekerja di salah satu perusahaan itu, saya menyadari bahwa saya memiliki gambaran mengenai apa yang terjadi dengan pengiriman dan pengantaran barang, tapi tidak dengan keberadaan orang-orang."
"Jadi, saya menulis sejumlah kode untuk BlackBerry saya dan membuat daftar email beberapa teman. Ketika saya berada di Golden Gate Bison Park, saya mengirim pesan: 'Saya di bison park'. Itu sebenarnya merupakan tweet pertama, tapi tidak ada yang melihatnya dalam real time. Dan, ketika teman-teman saya melihatnya, mereka bertanya mengapa saya harus repot-repot memberitahukan apa yang saya lakukan saat itu," paparnya.
Dorsey mengklaim, alasan mengapa Twitter membutuhkan waktu lima tahun untuk benar-benar beroperasi dikarenakan Amerika Serikat baru mengadopsi teknologi SMS ke berbagai operator pada 2006.
"AS tertinggal dari Eropa dalam mengadopsi beberapa teknologi. SMS adalah contoh yang bagus. Kami tertinggal 10 tahun dari Inggris, karena itu Twitter membutuhkan waktu untuk diluncurkan," pungkas Dorsey.
(van)
Source : Okezone.Com
Sebanyak 21 Persen Tweet Dari Pengguna Di Indonesia
TEMPO Interaktif, Jakarta - Indonesia tak hanya menjadi salah satu negara dengan pengguna twitter terbanyak. Presiden Direktur PT XL Axiata, Hasnul Suhaimi mengatakan sebanyak 21 persen kiriman tweet datang dari Indonesia. “Makanya sayang kalau namanya tweet, bukan kicauan,” kata Hasnul dalam sebuah seminar telekomunikasi di Jakarta.
Pengguna Twitter di Indonesia menunjukkan jumlah yang 'fantastis'. Jumlahnya terus meningkat dan mereka makin sering mengirim pesan atau ngetwit. Bahkan, pengunjung Twitter kini sudah melebih pengunjung situs besar Kaskus.us
Data itu tampak dari Google Trend. Pengunjung Twitter rata-rata per hari lebih dari 200 ribu orang (unique visitor). Forum Diskusi Kaskus.us yang sering disebut sebagai situs komunitas terbesar di Indonesia juga dikunjungi oleh jumlah yang hampir sama.
Direktur Utama PT Indosat Hari Sasongko mengatakan pengguna twitter di Indonesia menduduki peringkat kelima di dunia.
Data ini juga ditunjang oleh sejumlah perusahaan riset. comScore, misalnya, seperti ditulis TechCrunh mengatakan pengguna Twitter di Indonesia November 2009 nlalu mencapai 1,4 juta orang. Adapun, pengguna Twitter global mencapai 60 juta orang.
Source : Tempo Interaktif
Subscribe to:
Posts (Atom)
FanPage Taste Of Knowledge
Popular Posts
-
Berikut ini adalah ulasan untuk menambah kecepatan komputer kita. Untuk menambah kecepatan komputer kita bisa dilakukan dengan pemeliharaan ...
-
Saya tidak tahu apakah ini termasuk kategori pornografi atau nggak, tetapi mudah-mudahan sih nggak. Saya pernah dijelaskan oleh orang yang ...
-
Sebuah kota akan menjadi kota hilang saat ditinggalkan oleh penduduknya dan dibiarkan begitu saja, sehingga meninggalkan banyak peradaban ya...
-
Kalau anda seorang artis, penulis, musisi, politikus, internet marketer, a...
-
Postingan ini adalah List Chart untuk Acara Televisi Favorit yang banyak di tonton oleh masyarakat yang di Update per-bulannya. Ini merupaka...