Tuesday, August 14, 2012

Mourinho Says, Bukan 'Special One' Tapi 'The Only One'

Madrid - Julukan The Special One merekat erat dengan sosok Jose Mourinho. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Portugal, pelatih Real Madrid itu menganggap dirinya kini lebih pantas dipanggil 'The Only One'.

'The Special One' jadi julukan yang diberikan media Inggris pada Mourinho pada 2004 silam. Itu semua berawal dari konferensi pers pertama yang dia lakukan setelah diboyong The Blues dari FC Porto, yang pada musim sebelumnya dia antar menjuarai Liga Champions.

Ucapan Mourinho soal dirinya yang spesial kemudian terbukti di atas lapangan, dengan beberapa trofi dia persembahkan buat John Terry dkk.

Kalau kini dia ingin dipanggil sebagai 'The Only One', itu terkait sukses besar yang dia dapat bersama Chelsea, Inter Milan dan kini Real Madrid. Mourinho tercatat sebagai satu-satunya pelatih yang bisa meraih titel juara di tiga kompetisi domestik yang dianggap sebagai teratas di Eropa (Inggris, Italia dan Spanyol).

"Suka aku atau tidak, hanya aku satu-satunya orang yang telah memenangkan tiga gelar liga terbaik di dunia. Jadi, saya mungkin bukan sekadar 'Special One', tetapi kini semua orang harus mulai memanggil saya, 'The Only One'," cetusnya di salah satu stasiun televisi Portugal, SIC.

Dilanjutkan Mourinho, dengan perjalanan karier yang sudah cukup panjang dia kini bisa mengesampingkan target-target pribadi serta mengurangi sifat egois.

"Segalanya berjalan baik buat saya, terimakasih Tuhan. Saya lebih fokus dalam beberapa waktu terakhir ini. Kepuasan meraih kemenangan bersama Inter Milan juga melihat klub yang belum pernah jadi juara selama 50 tahun (Chelsea) bisa menjadi pemenang lagi. Itu lebih menarik buat saya, dibanding mengejar target-target pribadi," tuntas dia.

Di musim 2011/2012 Mourinho memberi sukses besar buat Madrid dengan mengantar klub tersebut merebut gelar La Liga pertamanya dalam kurun tiga tahun terakhir. El Real menjadi kampiun dengan torehan hebat berupa raihan 100 poin, rekor 121 gol, selisih gol +89 dan rekor 16 kemenangan tandang, dari total 32 kemenangan yang diraih.

Big Four Liga Inggris, Siapa Lagi Bakal Tercoret?

Getty Images 
Dalam beberapa musim terakhir Big Four Liga Inggris tak lagi dan tak selalu beranggotakan Manchester United, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool. Musim ini siapa lagi bakal tercoret dari daftar itu?

Apakah dominasi MU, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool sudah jadi cerita usang? Entahlah. Tapi, klasemen Premier League dalam dua musim terakhir menunjukkan bahwa hanya MU dan Arsenal yang konsisten finis di zona empat besar. Sementara selebihnya tergerus oleh kekuatan-kekuatan baru. Terakhir kali keempatnya duduk di zona empat besar bersama-sama adalah pada musim 2008/2009.

Sejak City mendapatkan suntikan dana besar dari Sheikh Mansour, Tottenham Hotspur menumpuk tinggi ambisi mereka, dan Newcastle United menunjukkan bahwa skuat yang solid juga bisa jadi penantang, sedikit demi sedikit wajah dan dominasi Premier League berubah. Liverpool sudah didepak oleh Spurs lebih dulu pada musim 2009/2010 dan selanjutnya belum pernah lagi finis di empat besar.

Dalam dua musim terakhir City bahkan benar-benar menunjukkan bahwa dominasi itu bisa diruntuhkan. Musim kemarin mereka sukses menjadi juara, meski harus menunggu sampai hari terakhir dan hanya dibedakan oleh selisih gol. Chelsea, yang tampil sebagai juara Eropa, terlempar ke posisi enam dan harus mengandalkan status barunya itu untuk bisa tampil lagi di Liga Champions. Liverpool? Finis lebih buruk dari musim sebelumnya: di posisi delapan.

So, akan seperti apa Liga Inggris musim ini? Mari kita tengok. Skuat City relatif tidak berubah drastis, meski Roberto Mancini mencak-mencak karena lemahnya aktivitas di bursa transfer. Sejauh ini baru Jack Rodwell yang berhasil didatangkan. Namun, menilik apa yang dikatakan Matt Le Tissier, City dinilai tak perlu khawatir. Eks bintang Southampton dan Inggris itu menilai bahwa tanpa pemain baru pun skuat City sudah cukup bagus. Hal ini setidaknya bisa dilihat kala mereka mengalahkan Chelsea 3-2 di Comunity Shield--meski The Blues bermain dengan 10 pemain sepanjang babak kedua, setelah unggul 1-0 di babak pertama.

City punya pemberi operan brilian pada diri David Silva, pembunuh di kotak penalti nan ulung pada Sergio Aguero, dan gelandang tengah brilian pada Yaya Toure. Masalah muncul ketika Toure absen untuk bermain di Piala Afrika musim lalu. City hanya tinggal memiliki Gareth Barry, Nigel De Jong, dan Owen Hargreaves. Ketika itu, Mancini sempat mengeluhkan minimnya pilihan di skuatnya. Jika melihat Hargreaves sering cedera dan yang bisa diandalkan tinggal Barry dan De Jong, maka Mancini ada benarnya.

Di belakang City ada sang rival sekota, MU. Sir Alex Ferguson mengaku terpukul melihat timnya gagal menjadi juara di hari terakhir dan kalah lewat selisih gol pula. Ditambah fakta bahwa 'Setan Merah' hancur-lebur di Eropa, manajer asal Skotlandia itu sadar timnya butuh diperbaiki. Lini tengah lesu. Tanpa kehadiran Paul Scholes, aliran bola tidak jalan, sampai akhirnya "Si Pangeran Jahe" itu kembali harus memakai sepatu bolanya lagi. Shinji Kagawa pun dibeli, tapi sudah selesaikah masalah? Beberapa blog suporter lokal MU masih sedikit meragukan kesiapan skuat dan ketertarikan terhadap Robin van Persie pun dinilai tidak banyak membantu.

Masalah MU memang terletak pada sistem permainan, yang mana pada musim kemarin kerap dikritik bak bermain tanpa darah. Oleh karenanya, patut ditunggu bagaimana Fergie mengembalikan kesegaran pada sistem itu, membuat mesinnya kembali bekerja, seperti pada era 2007-2009 di mana mereka merajai Inggris dan sukses menaklukkan Eropa. Selain itu, mereka bisa berharap cedera tak sering-sering datang lagi seperti yang terjadi pada musim lalu.

Yang tak kalah menarik adalah melihat bagaimana revolusi Liverpool, yang kini berada di bawah arahan Brendan Rodgers. Finis di urutan delapan --dan berada di bawah Everton-- adalah sebuah kesimpulan tegas betapa buruknya The Reds musim kemarin, meski pada akhirnya ada satu trofi diraih, yakni Piala Carling. Toh, tetap saja hasil itu tak bisa menyelamatkan Kenny Dalglish.

Rodgers, yang banyak dipuji atas apa yang dilakukannya di Swansea, mengemban harapan perbaikan itu. Harapannya bukan sekadar pada hasil, tapi juga proses. Rodgers yang senang menerapkan ball possession tinggi dan pressing ketat diharapkan bisa mengubah gaya main Liverpool, dan inilah yang dilakukannya selama tur pra-musim. Sejauh ini, ia mengaku puas atas hasil yang sudah ditunjukkan oleh Steven Gerrard dkk. Tinggal dinantikan saja bagaimana hasilnya di musim yang sesungguhnya.

Sekarang mari ke London. Chelsea tidak merasa cukup meskipun di dalam skuat mereka sudah bercokol penuh nama-nama mentereng. Sepeninggal Didier Drogba, mereka belanja besar dengan mendatangkan Eden Hazard, Marko Marin, hingga Oscar. Pembelian belum usai karena 'Si Biru' masih dikabarkan mengincar Victor Moses dan Andre Schuerrle. Roberto Di Matteo punya alasan di balik banyaknya rekrutan baru ini.

Pria asal Italia itu menilai bahwa musim kemarin hanya Juan Mata yang cocok untuk dimainkan di pos belakang penyerang. Kini dengan datangnya Hazard, ia punya pilihan lebih untuk posisi itu. Plus, datangnya Hazard dan Marin membuatnya punya opsi lebih untuk melakukan tusukan via sisi lapangan. Hazard dan Marin dikenal punya kemampuan dribbling dan kecepatan yang oke. Singkatnya, Chelsea tak mau tercoret lagi dari daftar empat besar di akhir musim.

Lalu, ada Tottenham yang sudah mendepak Harry Redknapp dan mempekerjakan Andre Villas-Boas, pria asal Portugal yang tidak sampai satu musim menangani Chelsea lantaran (dikabarkan) bermasalah dengan para pemain seniornya. Kini, Villas-Boas siap membuktikan diri lagi bersama Tottenham. Ia mengaku, suasana yang ditemuinya di White Hart Lane lebih menyenangkan dari Stamford Bridge. Tinggal bagaimana dia meracik tim pemain yang sudah ada dengan para muka baru semodel Jan Vertonghen dan Gylfi Sigurdsson. Villas-Boas yang senang dengan sepakbola menyerang bisa jadi bakal cocok dengan gaya eksplosif Tottenham.

Terakhir ada Arsenal, yang musim kemarin disebut terlalu banyak bergantung pada Van Persie. Saking bergantungnya, Harry Redknapp sampai yakin mereka bakal kembali terlunta-lunta musim ini jika Van Persie jadi hengkang. Sebagai tambahan, Redknapp juga meyakini bahwa Tottenham bakal finis di atas mereka.

Redknapp boleh berpendapat, tetapi Arsene Wenger pasti tidak setuju. Dibandingkan musim lalu di mana The Gunners cukup lamban di bursa transfer--baru membeli Mikel Arteta dkk. ketika musim sudah berjalan--, kali ini mereka bergerak cepat. Lukas Podolski, Olivier Giroud, dan Santi Cazorla sudah digaet. Meski tak kunjung meraih gelar juara, tetapi Arsenal tak pernah absen tampil di Liga Champions lantaran posisi mereka di akhir musim selalu berada di empat besar. Setidaknya demikianlah dalam beberapa musim terakhir.

Jadi, siapa yang bakal tercoret dari empat besar pada musim ini? Setiap orang pasti punya jawabannya sendiri, tak terkecuali Matt Le Tissier.

"Saya pikir, Manchester United akan menekan City dengan kuat sekali lagi. Chelsea akan bersaing lebih ketat dengan mereka dibandingkan musim lalu dan mungkin saja mengendap-endap ke posisi tiga musim ini. Untuk posisi empat, Anda mungkin bisa melihat di antara Arsenal, Liverpool, dan Spurs. Saat ini, Anda bisa bilang bahwa Arsenal berada di posisi yang lebih baik, tapi jika Robin van Persie hengkang mereka bakal melemah. Tapi, saat ini, dengan Van Persie masih ada di dalam tim, saya akan bilang bahwa Arsenal akan menempati posisi empat."

Setuju dengan pendapat Le Tissier?

Memaafkan Itu Menyehatkan

Jangan hanya meminta dan berbagi maaf saat Idul Fitri saja. Menurut psikolog, ternyata memberikan maaf itu  menyehatkan, baik secara fisik maupun mental.

“Rasa marah, benci, dan dendam yang dipertahankan dalam hati akan berpengaruh besar terhadap kesehatan mental, juga berimbas pada kesehatan fisik,” kata Psikolog dari Univesitas Islam Bandung, Ice Shofiyyatulloh.

Kesehatan mental sendiri didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat, serta lingkungan di mana dia hidup dan berinteraksi. “Bila dalam diri seseorang tersimpan emosi negatif, tentu ini akan menghambat kemampuan individu menyesuaikan diri,” kata Ice.

Menyimpan rasa marah, katanya, secara psikologis membuat diri sendiri tidak tenteram dan orang lain pun merasa tak nyaman. Seseorang yang tidak memiliki ketenteraman batin atau ketenangan, biasanya fisiknya mudah lelah.

“Sebab emosi negatif berpengaruh besar pada sistem kerja organ tubuh yang mengakibatkan seseorang mengalami masalah kesehatan,” jelasnya.

Berbagai masalah kesehatan berpotensi muncul jika hati dipenuhi emosi negatif. Salah satunya stres. Kemudian, rasa tidak nyaman ini bakal berimbas pada lingkungan sekitar.

“Bila seseorang sudah mulai tidak mampu memberikan rasa nyaman pada lingkungan, otomatis kesehatan fisik dan mentalnya akan terganggu,” ujar Ice.

Memelihara emosi negatif juga bisa menyebabkan terganggunya kesehatan fisik, seperti munculnya penyakit jantung, maag, asma, gangguan kulit (jerawat), liver dan berbagai penyakit lain. “Jadi ada korelasi tinggi antara menyimpan emosi negatif dengan munculnya berbagai penyakit fisik,” tambah Ice.

Perilaku individu juga akan terpengaruh. “Mereka jelas tidak adaptable dengan diri sendiri dan lingkungan. Sebab, akan muncul emosi lain yaitu rasa malu, khawatir, sedih, dan takut sebagai akibat munculnya penyakit fisik,” tandasnya.  

Dalam situasi seperti itu, perilaku yang tampak adalah tidak menemukan harmoni dengan orang lain. Alhasil, individu penyimpan rasa marah cenderung menarik diri dari lingkungannya atau justru sebaliknya, lebih agresif terhadap lingkungan dalam rangka melindungi dirinya.

Cara terbaik untuk keluar dari masalah tersebut, lanjut Ice, adalah dengan memaafkan kesalahan orang lain. Mungkin bagi sebagian orang memaafkan tidak mudah, tapi sebenarnya gampang jika ingin dilakukan.

“Menulis kata memaafkan saja sudah membawa rasa tenang dan tenteram di hati, apalagi mengucapkan secara verbal dan mengaplikasikannya,” tambah konsultan psikologi lepas ini.

Menurut dia, memaafkan itu bukan memaklumi, melupakan, pembenaran, ataupun menenangkan diri. “Memaafkan adalah proses untuk kembali pada kondisi nol seperti sebelum terjadi apa-apa. Dia akan kembali merasa tenang, harmoni, tidak terpicu atau terstimulasi lagi oleh masalah yang telah lewat meski ia tidak melupakannya tetapi dirinya tetap tenang,” urainya.

Di sinilah, mengapa orang-orang yang mudah memaafkan hatinya selalu bahagia. Jika hati bahagia, jiwanya merasa tenang, tenteram dan tidak dihantui rasa marah. Secara otomatis mentalnya akan sehat. Itulah makna besar yang terkandung dalam ritual saling memaafkan.

Ice berbagi tips mudah memaafkan. Kata dia, tanamkan dalam diri, tidak ada untungnya memelihara rasa marah, benci dan dendam. Tidak ada masalah dan persoalan apa pun yang selesai dengan kemarahan, kebencian, dan dendam. “Justru yang ada, perasaan tersebut akan merusak diri sendiri, baik fisik maupun mental,” tegasnya.

FanPage Taste Of Knowledge

Popular Posts

My Twitter