Sunday, October 14, 2012

Format Kualifikasi MotoGP 2013

Efektif per 1 Januari 2013, MotoGP memberlakukan format kualifikasi baru sebagai berikut

Prosedur Baru
  •  Tiga sesi latihan bebas (FP), tidak ada perubahan. Hanya saja, kombinasi waktu terbaik dari 3 latihan bebas ini akan digunakan sebagai acuan untuk masuk ke sesi kualifikasi
  • 10 pembalap tercepat dari FP1, FP2, dan FP3, akan secara otomatis masuk ke sesi kualifikasi 2 (QP2)
  • Pembalap yang tidak masuk dalam 10 besar diatas, akan beradu di sesi kualifikasi 1 (QP1)
  • Dua orang pembalap tercepat di QP1, akan mengikuti QP2 untuk memperebutkan posisi start 1 sampai dengan 12 bersama dengan 10 pembalap teratas yang sudah masuk ke QP2 dari hasil FP 1, Fp2, dan FP3
  • Pembalap selain dua pembalap yang masuk ke QP2 tadi, akan start dengan urutan sesuai dengan hasil QP1, dimulai posisi start 13 hingga terakhir
Waktu per sesi
  • Hari pertama
    • FP1: 45 menit (berpengaruh untuk masuk ke sesi kualifikasi)
    • FP2: 45 menit (berpengaruh untuk masuk ke sesi kualifikasi)

Thursday, October 11, 2012

Indonesiana - Mahasiswi Surabaya Rancang Tas Bisa "Nge-Charge"

Tiga mahasiswi Surabaya berhasil menciptakan "backpack" (tas punggung) yang bisa menghasilkan energi listrik.

Ketiganya merupakan mahasiswi jurusan Desain Manajemen Produk (Fakultas Industri Kreatif) dan Jurusan Teknik Industri (Fakultas Teknik) Universitas Surabaya.

"Pemakainya bisa menggunakan tas itu untuk mengisi ulang baterai alat-alat elektronik, seperti laptop, IPad, ponsel, atau lainnya," kata mahasiswi Jurusan Teknik Industri angkatan 2010, Evita Tania.

Didampingi dua rekannya Stella Felicia (Desain Manajemen Produk 2010) dan Cindy Eleanora (Desain Manajemen Produk 2011), ia mengemukakan hal itu tentang karya mereka yang memenangkan gelar "Best of the Best" pada Lomba Perancangan Tas Nasional 2012 di Bandung pada awal Oktober 2012.

"Listrik itu dihasilkan dari energi kinetik (gerakan tubuh pemakainya), karena itu tas listrik itu bisa saja disebut sebagai green energy (energi hijau), karena ramah lingkungan. Sebagai prototipe, backpack ini diberi nama "Kinetic Ver 1.0" (Green Kinetic Energy Providing Electricity Backpack)," katanya.

Menurut Evita, banyak pengguna "backpack (khususnya mahasiswa) yang membawa laptop, ponsel, charger, dan gadget lainnya dan masalah yang sering dihadapi adalah kebutuhan listrik untuk "men-charge" baterai gadget mereka.

"Sumber listrik tidak selalu berada di dekat mereka saat dibutuhkan. Masalah sering muncul ketika ponsel, laptop atau gadget mereka low batt (kehabisan baterai) dan mereka harus mencari sumber listrik," katanya.

Mengisi baterai mengharuskan mereka diam, menunggu, atau meninggalkan gadget di satu tempat untuk beberapa waktu (jam), sehingga mereka akhirnya mencari cara agar pengguna "backpack" mudah men-charge gadget mereka.

"Dari pengamatan, saat berjalan, naik kendaraan (misalnya sepeda motor), dan melakukan aktivitas lainnya, pengguna backpack pasti mengeluarkan energi kinetik. Energi itu terbuang sia-sia," katanya.

Dari sini muncul ide membuat "backpack" yang dapat menyimpan energi listrik untuk "men-charge" gadget (ponsel, laptop, dan lainnya) dari energi kinetik dari pergerakan fisik pengguna backpack.

"Energi buangan tersebut sangat berpotensi diolah kembali untuk memenuhi kebutuhan energi konsumen. Sifat energi yang kekal, namun hanya dapat diubah menjadi bentuk energi lain dapat dimanfaatkan," katanya.

Mereka menggunakan alat yang dapat mengubah energi kinetik menjadi energi listrik, yaitu "piezoelektrik". Alat ini menghasilkan listrik bila mendapat tekanan atau getaran.

"Alat ini disambungkan ke penyimpan energi listrik yang dapat digunakan men-charge gadget. Saat pengguna backpack memasukkan maupun mengeluarkan barang, saat berjalan, atau gerakan lainnya, alat tersebut akan menyerap energi kinetik dan mengonversinya menjadi energi listrik," katanya.

Ditanya alasan menciptakan inovasi itu, ia mengatakan akhir-akhir ini pembicaraan tentang "green product" makin marak, sehingga membuat produsen berlomba-lomba menghadirkan produk ramah lingkungan.

"Semakin hari, produsen semakin dituntut menggunakan material yang mencakup 3R (reduce, reuse, recycle). Konsumsi energi dunia semakin meningkat, berbanding terbalik dengan persediaan energi yang semakin menipis," katanya.

Ironisnya, katanya, banyak energi yang secara tidak sadar terbuang begitu saja, seperti energi kinetik, energi potensial, energi bunyi, dan bentuk energi lainnya. "Itu sebabnya kami menciptakan tas itu," katanya.

Tuesday, October 02, 2012

Kontroversi Film G30S/PKI, The Act of Killing



The Act of Killing, film garapan sutradara Joshua Oppenheimer yang mengisahkan sejarah berdarah G30S/PKI ini terus menuai kontroversi.Beberapa pihak mengungkapkan bahwa sejarah yang diangkat dalam film The Act of Killing tidak mengungkapkan secara utuh sejarah G30S/PKI.

Pihak yang kontra terhadap film ini, diantaranya adalah Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sumatera Utara, mereka berpendapat bahwa film The Act of Killing telah melenceng dari kebenaran sejarah.

Misteri sejarah G30S/PKI memang selalu menjadi 'tambang sejarah' bagi para penggali sejarah, terlebih bagi mereka yang ingin mengungkap kebenaran sejarah kelam G30S/PKI. Begitupun dengan Joshua Oppennhiemer, sutradara lulusan fakultas Film Universitas Harvard ini tertarik untuk mengangkat sejarah G30S/PKI ke dalam layar lebar.

The Act of Killing merupakan film yang didasari oleh kesaksian-kesaksian sejarah Anwar Congo, ia adalah salah seorang pelaku sejarah dan tokoh pemuda di era G30S/PKI.

Pada awalnya pembuatan film The Act of Killing adalah untuk kepentingan studi, karena Oppennhiemer tengah menyelesaikan program doktor di bidang seni di Central Santi Martins College of the Art and Design, University of the Art London, Inggris.

Merasa ada orang yang memberi perhatian untuk mempelajari sejarah bangsa Indonesia dan mendokumentasikan perjalanan hidupnya, Anwar Congo pun tertarik untuk membantu Joshua Oppenheimer, terlebih Anwar Congo dijadikan pemeran utama di film ini.

Namun Anwar Congo merasa tertipu karena film yang semula dibuat hanya untuk kepentingan studi, kini dikomersilkan, film tersebut kini tayang di Festival Film Toronto dan kemungkinan besar akan tayang juga di bioskop-bioskop Hollywood.

Joshua Oppennhiemer telah mengingkari janjinya, sebelumnya ia juga pernah berjanji akan memutarkan film ini setelah Anwar Congo meninggal, hal ini dilakukan untuk menghindari berbagai reaksi atau dampak yang tidak diinginkan dari film tersebut.

Kekhawatiran terbesar saat ini adalah film The Act of Killing adalah tidak memuat kebenaran secara utuh akan sejarah G30S/PKI, karena berbeda kacamata, tentu akan berbeda juga sudut pandangnya. Semoga sejarah Indonesia tidak disamarkan kemudian dihilangkan atau dibelokkan dari kenyataan.

"JAS MERAH: Jangan pernah sekali-sekali melupakan sejarah!" (Soekarno).

FanPage Taste Of Knowledge

Popular Posts

My Twitter