Monday, December 24, 2012

Juara Dunia Gunpla Allen Febrianto Harumkan Nama Indonesia


Juara Dunia Gunpla Allen Febrianto Harumkan Nama IndonesiaTRIBUNNEWS.COM/RICHARD SUSILO
Anak Indonesia usia 14 tahun, Allen Febrianto, berhasil menjadi juara dunia Gunpla Builders World Cup (GBWC) yang ke-2, Minggu (23/12/2012) sore di Odaiba, Tokyo, Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang
Anak Indonesia usia 14 tahun, Allen Febrianto, berhasil menjadi juara dunia Gunpla Builders World Cup (GBWC) yang ke-2, Minggu (23/12/2012) sore di Odaiba, Tokyo, mengalahkan 13 peserta lain dari Amerika Serikat, Kanada, Korea, China, HongKong, Taiwan, Australia, Italia, Singapura, Filipina, Malaysia, Thailand dan Jepang. Demikian dilaporkan Tribunnews.com dari Tokyo.

Karya Allen dengan nama Kabuki memenangkan (dan mendapat trophy khusus) kelas Junior Course untuk usia 15 tahun ke bawah. Para juri menganggap sangat baik karena kreasinya yang menarik pada bagian kaki dan kepalanya ada lukisan kecil seperti topeng kabuki sesuai nama karyanya.

Juri lima orang yitu dari staf majalah Hobby Magazine, Pemimpin Redaksi majalah Hobby Japan, imamura, Kawaguchi, dan dua ahli pengamat Gundam lain. Mereka menilai tiga hal penting yaitu cara merakit karya Allen, pengecatan atau pemberian warna pada karyanya, dan ide atau kreatitas karya Allen, masing-masing angka 10 sehingga total angka 30. Terbaik akhirnya terpilih karya Allen karena penilaian dianggap Allen memenuhi semua hal penilaian dengan sangat baik.

Selain kelas Junior juga ada open course yang diikuti semua usia, dimenangkan oleh Ng Edy, 32 dari HongKong, dan kelas khusus orang Jepang. Karya Edy bernama Project Gwen-Rezel FA+FW.
GBWC yang kedua kali ini diselenggarakan oleh Bandai sebagai pemegang hal patent Gundam, permainan yang sangat populer di dunia buatan Jepang. Tahun depan juga akan diselenggarakan Gunpla yang ke-3 yang akan diikuti oleh para wakil, juara seleksi yang dilakuan di setiap negara, sama seperti yang dilakukan tahun ini.

Thursday, December 20, 2012

Mengapa Aplikasi iOS Lebih Laku Dari Pada Android?

 

KOMPAS.com — Soal jumlah uang yang masuk, toko aplikasi App Store milik Apple memang bukan tandingan kompetitornya dari kubu Android, Google Play. November lalu, sebuah studi App Annie yang dikutip oleh Wired mengungkapkan bahwa App Store memiliki pendapatan bulanan 300 persen lebih besar dibandingkan dengan Google Play.

Padahal, jumlah pengguna Android sudah jauh melebihi angka pemakai iOS, dengan penguasaan pasar 75 persen menurut data kuartal ketiga dari IDC. Akan tetapi, kenapa kesenjangan jumlah pendapatan itu masih belum berubah?

Jawabannya, menurut para developer aplikasi, tak lain terletak pada kontrol kualitas super ketat yang diterapkan Apple terhadap aplikasi-aplikasi yang beredar di App Store. Berkat mekanisme pengawasan Apple, konsumen bisa mendapatkan aplikasi yang terjaga kualitasnya dan karena itu dengan senang hati membelanjakan uang.

"App Store memiliki proporsi jumlah aplikasi berkualitas yang lebih tinggi sebagai hasil dari proses approval yang ketat itu," ujar Zak Tanjeloff dari DLP Mobile. "Itu berarti developer bisa meminta bayaran lebih untuk aplikasi mereka."

Tanjeloff yang mengembangkan beberapa macam aplikasi—mulai dari penerjemah bahasa hingga transportasi publik—mengatakan bahwa aplikasi buatan dia biasanya lebih banyak terjual di iOS ketimbang Google Play.

"Saya percaya bahwa hal itu disebabkan oleh toko App Store yang aman dan dipercaya konsumen. Terlebih lagi para pengguna memang sudah familiar dengan metode pembayaran App Store dari memakai iTunes selama bertahun-tahun," ujarnya.

Standar kualitas Apple yang tinggi juga disebut Tanjeloff berhasil  meyakinkan konsumen bahwa aplikasi yang dijual di App Store memang aman dan tidak disusupi program mata-mata atau malware. "Sebaliknya, di toko aplikasi Android tak ada jaminan kualitas atau keamanan. Lalu ada banyak penipuan dan aplikasi-aplikasi yang memang kualitasnya tidak bagus."

Tak cocok untuk semua


Meskipun begitu, para developer berpendapat bahwa mekanisme yang diterapkan Apple di App Store kurang cocok untuk beberapa jenis aplikasi, salah satunya freemium yang bisa diperoleh gratis tetapi memiliki konten tambahan berbayar.

Joe Burger adalah pengembang aplikasi manajemen karyawan Labor Sync. Versi trial dari aplikasi freemium ini bisa dipakai secara gratis, tetapi pengguna harus membayar untuk bisa menggunakan fungsi penuhnya. Pada Android, hal tersebut sama sekali bukan masalah, tetapi Apple rupanya keberatan dengan model yang diterapkan Burger.

"Kami ditolak karena mencantumkan alamat situs web kami di dalam aplikasi, di mana kami menjalankan mode trial gratis aplikasi itu," ujarnya. "Kami juga ingin membuat mekanisme pembayaran kami sendiri dengan harga yang dinamis, tetapi Apple rupanya tidak setuju."

Agar aplikasinya bisa masuk App Store, Burger diharuskan menghapus hal-hal yang berkaitan dengan situs web-nya dari dalam aplikasi. Dia juga wajib menerapkan metode pembelian konten dalam Aplikasi dari Apple sehingga terpaksa menambahkan sejumlah kode programming lagi.

"Dengan Android, penjualan kami lebih komplit. Pengguna membeli aplikasi kami, mencoba versi trial, lalu sign-up dan membayar biaya langganan. Itu tak terjadi di App Strore," ujar Burger.

Hal lain yang menjadi momok developer yang menjual aplikasi di App Store adalah prosedur update yang memakan waktu lama. Monica Martino dan Greg Smith dari Privus Mobile mengatakan bahwa menerapkan update untuk aplikasi Android lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan update pada aplikasi iOS.

"Pada iOS, diperlukan waktu tiga bulan untuk mengerjakan update. Kemudian butuh waktu satu bulan lagi agar update tersebut bisa diperiksa oleh Apple, itu pun kalau tidak ditolak kemudian," keluh Martino. "Saat update tersebut akhirnya bisa keluar di App Store, jangka waktu yang sama bisa dipakai untuk meng-update sebuah aplikasi Android sebanyak tiga kali."

Ketatnya kontrol kualitas aplikasi yang diterapkan Apple bisa jadi mendorong pengembang aplikasi macam Martino dan Smith untuk berpindah ke Google Play. Bulan Oktober 2012, pendapatan toko aplikasi Android ini naik 17,9 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara pendapatan aplikasi iOS turun 0,7 persen dalam kurun waktu yang sama.

Google Play memang masih jauh di belakang App Store soal besarnya pendapatan yang dihasilkan aplikasi-aplikasi di dalamnya. Namun, apabila Apple tak melonggarkan kebijakan kontrol kualitas di App Store, bukan tak mungkin toko aplikasi Android saingannya itu bisa mengejar ketertinggalan.

Source : Kompas Tekno

Tuesday, December 18, 2012

Wenger Says, Rekor Arsenal Tetap Terbaik


Manajer Arsenal Arsene Wenger bisa tersenyum puas usai kemenangan besar timnya atas Reading, Senin 17 Desember 2012 atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Kegagalan The Gunners, julukan Arsenal, di ajang Piala Liga tengah pekan lalu seakan terobati.

Pada laga lanjutan Premier League di markas Reading, Stadion Madejski, Arsenal membawa pulang kemenangan meyakinkan 5-2. Santi Cazorla bahkan mempersembahkan hattrick untuk The Gunners lewat golnya di menit 32, 35 dan 60.

Sedangkan dua gol Arsenal lainnya dicetak Lukas Podolski (14’) dan Theo Walcott (80’). Sementara itu, Reading sempat mengejar ketinggalan melalui gol Adam Le Fondre (66’) dan Jimmy Kebe (71’). Berkat kemenangan itu, The Gunners menyodok ke peringkat 5 klasemen sementara dengan raihan 27 poin. Reading pun terperosok ke dasar klasemen (9 poin).

“Target kami memang menang dengan skor meyakinkan. Tapi, kami sempat kehilangan fokus saat kedudukan 4-2. Yang terpenting, kami bisa bangkit lagi,” ujar Wenger seperti dilansir Sky Sports.

Kemenangan atas Reading seakan menjawab berbagai kritikan seusai Arsenal tersingkir dari Piala Liga. The Gunners gagal melangkah ke semifinal lantaran takluk oleh tim kompetisi level tiga Inggris, Bradford City, lewat adu penalti.

Wenger meyakini tim besutannya takkan larut dalam kegagalan. Manajer berkebangsaan Prancis ini juga memastikan kekalahan dari Bradford tidak lebih buruk dari yang pernah dialami tim Inggris lainnya.
“Selama 16 tahun, kami hanya sekali gagal melawan tim dari divisi lebih rendah. Jika dibandingkan dengan klub-klub lain di Inggris, rekor kami tetap yang terbaik,” imbuh Wenger.

“Saya setuju kalau kekalahan itu menyakitkan dan sangat mengecewakan. Tapi, malam itu, permainan Bradford sangat baik. Saya harus menerima kritikan selama performa kami memang buruk,” tegas manajer yang akrab dijuluki The Professor ini. (sj)

FanPage Taste Of Knowledge

Popular Posts

My Twitter