Sunday, November 30, 2014

Inilah Orang Pertama Yang Mengidap AIDS !

Salah satu penyakit yang menjadi perhatian seluruh pemerhati lingkungan sehat ini merupakan penyakit yang tidak diketahui secara pasti kapan dan oleh siapa penyebarannya dimulai. Namun, terdapat salah seorang yang dijadikan sebagai terduga penyebar dan pengidap AIDS pertama di dunia.

Orang ini adalah Gaetan Dugas yang merupakan seorang pramugara campuran Prancis dan Kanada yang lahir pada 20 April 1953 dan menghembuskan napas terakhirnya pada 30 Maret 1984 akibat infeksi AIDS terhadap ginjalnya. Akan tetapi, dewasa ini Dugas dianggap sebagai laki-laki yang sangat aktif secara seksual sehingga disinyalir sebagai penyebar HIV sebelum penyakit tersebut teridentifikasi.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan American Journal of Medicine, 1984, penyebaran HIV pada awalnya dimulai di New York dengan dugaan virus tersebut dibawa oleh Dugas dari Afrika yang kemudian disebarkan melalui komunitas gay. Dugas bahkan dianggap sebagai orang yang berperilaku sosiopatik sehingga dengan sengaja menularkan virus tersebut terhadap lingkungan sekitarnya.

Setiap tahunnya, Dugas ini memiliki ratusan pasangan yang jika dijumlahkan, maka hingga tahun 1972, Dugas memiliki lebih dari 2.500 partner seks. Istilah “patient zero” kemudian muncul setelah Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dirilis. Hal ini disebabkan oleh simpulan yang membuktikan bahwa Dugas merupakan pusat jaringan pasangan seksual dengan julukan “patient zero”.

Saturday, November 29, 2014

Dampak Dari Kemajuan Teknologi Yang Terlalu Pintar



Kemajuan dalam bidang teknologi sangat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bantuan dari teknologi yang ada disekitar kita, kita dapat melakukan kegiatan dengan lebih mudah. Tetapi, ada beberapa dampak yang akan menimpa kita jika terlalu bergantung pada teknologi. Berikut ini saya berikan penjelasan tentang maksud dari topik artikel kali ini.

Secara tidak sadar komputer sekarang ini semakin tajam dan bervariasi. Mereka dapat merasakan lingkungan sekitar, memecahkan masalah yang rumit, dan membuat penilaian dan belajar dari pengalaman. Kita pun terkesima dengan hal-hal tersebut, dan mulai menyerahkan tugas-tugas yang rumit yang biasa kita kerjakan kepada teknologi. Tapi jangan sampai kita tertipu dengan kecanggihannya, karena ada sisi gelap dari hal tersebut.



Bukti telah mengatakan bahwa fungsi otak kita akan semakin menurun jika kita terlalu bergantung kepada teknologi. Bukannya memajukan kita, software yang pintar dapat membuat kita bodoh. James Bright (1950), seorang professor sekolah bisnis Harvard menyatakan bahwa jika "kita terlalu bergantung pada hal-hal yang praktis ataupun teknologi, manusia dapat mengalami “de-skill” (penurunan kemampuan) ketimbang “up-skill” (peningkatan kemampuan)."

Seiring dengan berjalannya waktu, hal-hal tersebut sudah merambah dunia kerah-putih. Software sekarang sudah dapat melakukan analisis dan membuat keputusan yang biasanya dilakukan oleh manusia. Selain itu, computer juga sudah merambah sampai kepada para pilot, dokter, dan arsitek.

Pada tahun 2007, saat sedang melaksanakan program doctoral pada Sekolah Insinyur Universitas Cranfield, Ebbatson melakukan sebuah eksperimen terhadap pilot-pilot pesawat. Dia meminta mereka untuk melakukan maneuver yang sulit dengan sebuah simulator pesawat dengan kerusakan pada mesin untuk mendarat pada air. Lalu dia mengukur kemampuan mereka, seperti ketepatan mereka dalam mempertahankan kecepatan.

Ketika dilakukan perbandingan dengan pengalaman terbang sang pilot, dia menemukan hubungan yang sangat kuat antara kemampuan pilot dalam mengontrol pesawat dengan jumlah waktu pilot saat mengendalikan pesawat secara manual. Dia mengatakan bahwa, kemampuan menerbangkan pesawat menurun cukup drastis jika tidak ada pelatihan intensif.

Sepuluh tahun yang lalu, ilmuan dari Universitas Utrech, Belanda juga melakukan eksperimen. Hasilnya, orang-orang yang menggunakan software yang sederhana menghasilkan sedikit kesalahan dan memiliki bakat yang lebih baik dalam bekerja, hal ini berbanding terbalik dengan mereka yang menggunakan software yang rumit.

Tetapi hal ini dapat diatasi dengan metode “the decision loop.” Pada model ini, software memiliki peran yang hanya sebagai alat bantu. Sehingga mereka hanya kita perlakukan sebagai partner dan bukan “sang pembuat keputusan.”

John Lee mengatakan, “pendekatan otomatis yang sedikit, dimana kita meletakkannya sebagai pengkritik, lebih menghasilkan kesuksesan yang lebih tinggi” ketimbang melatakkannya sebagai pembuat penilaian dengan kalkulasi mesin.

Itulah sedikit penjabaran dari saya tentang dampak teknologi jika digunakan secara berlebihan. Setuju atau tidak sebenarnya ini adalah fakta dan harus kita terima. Apalagi jika kita mengingat anak-anak usia TK dan SD yang lebih sering bermain dengan gadget mereka ketimbang dengan teman-teman sebaya mereka sendiri

Wednesday, November 26, 2014

Aplikasi Hanacaraka, Lestarikan Budaya Jawa

Aplikasi Hanacaraka
Aplikasi Hanacaraka(Vivanews/Daru)

Untuk anak muda agar tetap mengenal aksara dan budaya Jawa.

VIVAnews - Aksara Jawa merupakan salah satu dari sekian banyak warisan budaya leluhur bangsa Indonesia. Namun, dalam perkembangannya, aksara Jawa ini semakin tergerus dengan perkembangan zaman. Diperlukan langkah-langkah untuk melestarikan budaya bangsa yang merupakan peninggalan leluhur kita.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan agar warisan budaya tersebut tidak hilang, namun sebaliknya dapat berkembang baik, adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Kondisi ini, mendorong Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (Balai Tekkomdik) Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satu unit pelaksanaan teknis daerah (UPTD) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dikdispora) DIY, menciptakan aplikasi belajar baca tulis dan game aksara Jawa yang berbasis pada mobile lintas platform yang diberi nama 'Hanacaraka'.

Kepala Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (Balai Tekkomdik) DIY, Singgih Raharjo, mengatakan dengan adanya teknologi smarphone yang kini harganya sudah terjangkau oleh masyarakat maka sangat mudah aplikasi 'Hanacaraka' tersebut di-download.

"Mengunduh aplikasi Hanacaraka tidak perlu membayar, alias gratis. Berbagai pusat pengunduhan aplikasi yang disediakan vendor-vendor terkemuka seperti playstore, appstore telah menyediakan aplikasi Hanacaraka," katanya, Rabu 26 November 2014.

Menurutnya, konten, atau isi dari aplikasi Hanacaraka berupa aplikasi belajar baca tulis dan game aksara Jawa berbasis mobile lintas platform yang terdiri dari menu utama yaitu selayang pandang, belajar aksara Jawa, game, bantuan dan tentang aplikasi.

"Pada menu selayang pandang terdapat tiga sub menu di dalamnya, yakni pentingnya aksara Jawa, sejarah aksara Jawa, dan filosofi aksara Jawa," jelasnya.

Pada sub menu pentingnya aksara Jawa pengguna dapat mengetahui gambaran bahwa aksara Jawa adalah hasil budaya tingkat tinggi yang merupakan wujud intelektualitas masyarakat Jawa.

"Pada sub menu sejarah aksara Jawa, maka terdapat cerita mengenai sejarah aksara Jawa dilihat dari dua perspektif yaitu ilmiah dan fiksi," terangnya.

Pada submenu filosofi aksara Jawa pengguna akan diajak untuk menyelami kandungan filosofi aksara Jawa yang adiluhung.

"Semua bagian dari selayang pandang ini merupakan pengantar teori yang disampaikan kepada para pengguna aplikasi sebelum belajar pengenalan dan penulisan aksara Jawa itu sendiri," bebernya.

Memasuki menu belajar aksara Jawa pengguna akan dimanjakan dengan tampilan menarik dan artistik mengenai ilustrasi 20 huruf aksara Jawa. Kesetiap huruf ini merupakan icon tombol yang manakala diklik akan menuju ke materi pembahasan dari huruf tersebut.

"Contohnya, apabila pengguna mengklik huruf 'ha' maka aplikasi akan mengantarkan pengguna memasuki materi khusus huruf 'ha'. Setelah memasuki menu huruf 'ha', pengguna akan menemui bentuk dari huruf 'ha' tersebut, serta bagaimana pengucapannya dalam bentuk audio," katanya.

Selain itu, terdapat materi pembelajaran mengenai sandhangan, pasangan, aksara murda, aksara swara, dan bahkan ada game, atau kuis yang interaktif, menarik dan bertingkat-tingkat level kesulitannya, sehingga para penguna tidak bosan untuk menggunakan aplikasi ini.

"Game-game yang menarik terdiri dari juragan gudheg, rajahan wong, milang-miling, dan krapyakan," katanya.

Totok Prabowo, salah satu anggota tim yang menciptakan aplikasi 'hanacaraka' mengatakan aplikasi belajar bahasa Jawa berbasis mobile lintas platform ini dibangun dengan scripting dan coding yang unik dari tim programmer aplikasi belajar baca tulis dan game aksara Jawa, sehingga dapat dengan mudah diinstal pada berbagai mobile smartphone lintas platform.

"Pengguna hanya memerlukan sebuah gadget smartphone yang di dalamnya telah terinstal sistem operasi android dan iOS," katanya.

Totok menambahkan bahwa aplikasi ini tidak saja untuk pelajar sekolah dasar hingga SMA, namun juga dapat dinikamti oleh masyarakat umum yang tertarik dengan aksara Jawa.

"Target kita, agar generasi muda tetap melestarikan budaya yang merupakan warisan luhur. Jangan sampai hilang karena perkembangan zaman," tandasnya.

Ditanya tentang biaya untuk pembuatan aplikasi belajar baca tulis dan game aksara Jawa ini, Singgih mengatakan dari awal proses hingga aplikasi ini siap diunduh menghabiskan anggaran sekitar Rp400 juta.

"Anggaran tersebut berasal dari dana keistimewaan Yogyakarta yang memang ditujukan untuk pelestarian budaya yang ada di Yogyakarta," ujarnya.

FanPage Taste Of Knowledge

Popular Posts

My Twitter