Monday, February 23, 2009

Film Indonesia - Tahun 1931

Atma De Vischer

Produser: G Krugers
Sutradara:
Penulis:
Pemeran:
Warna: Hitam putih

Sinopsis

film dokumenter ini menggambarkan perjalanan Ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag.

Catatan

Film ini merupakan film pertama Krugers yang bersuara. Catatan berdasarkan surat G Krugers pada TD Tio Jr.

Sumber : Surat G. Krugers pada T.D. Tio Jr.


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Boenga Roos dari Tjikembang

Produser: The Teng Chun
Sutradara: The Teng Chun
Penulis: Kwee Tek Hoay
Pemeran:
Warna: Hitam putih
Genre: Drama

Sinopsis

Oh Ay Ceng, pegawai perkebunan, terpaksa melepaskan Marsiti, kekasihnya yang setia, demi mengikuti kehendak ayahnya untuk kawin dengan Gwat Nio, putri pemilik perkebunan tempatnya bekerja. Marsiti sendiri mendorong Ay Ceng untuk patuh pada kehendak orangtua. Marsiti pergi dan meninggal. Ayah Gwat Nio membuka rahasia bahwa Marsiti itu adalah anaknya dari seorang piaraannya. Dari perkawinan Ay Cheng-Gwat Nio lahir Hoey Eng alias Lily yang tumbuh jadi gadis elok. Ia dipertunangkan dengan Sim Bian Koen, anak pemilik perkebunan Tjikembang. Sesaat sebelum perkawinan berlangsung, Lily meninggal. Bian Koen sangat masygul dan akan pergi ke Kanton untuk jadi tentara. Niat ini dihalangi Ay Cheng agar bisa menghadiri peringatan kematian Lily. Suatu hari menjelang keberangkatan ke Tiongkok, Bian Koen mengunjungi perkebunan Tjikembang dan sampai di pemakaman pribumi. Tiba-tiba ia berhadapan dengan "Lily". Terbukalah rahasia. Yang nampak oleh Bian Koen itu bukanlah Lily, tapi Roosminah, putri Marsiti dengan Ay Cheng. Roosminah akhirnya dipersunting Bian Koen.

Catatan

Kisah film ini aslinya karya Kwee Tek Hoay yang pertama-tama dimuat secara bersambung dalam majalah "Panorama" sejak Maret 1927, kemudian dipentaskan oleh Union Dalia Opera pada 1927. Film ini dikritik habis oleh Andjar Asmara (wartawan, penulis naskah sandiwara) karena suaranya buruk. The Teng Chun, anak eksportir hasil bumi (The Kiem Ie), belajar di San Fransisco. Di sini ia berkenalan dengan dunia film, dan menganjurkan agar ayahnya beralih usaha dengan mengimpor film Cina. Teng Chun meninggalkan sekolahnya dan pindah ke Shanghai untuk ikut-ikutan membuat film.

Sumber : The Teng Chun (1972)


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Indonesia Malaise

Produser: Wong Bersaudara
Sutradara: Wong Bersaudara
Penulis:
Pemeran: MS Ferry, Oemar
Warna: Hitam putih
Genre: Komedi

Sinopsis

Kisahnya tentang seorang gadis yang sudah punya kekasih, tapi dipaksa kawin dengan pria lain. Sang suami kemudian menyeleweng, sedang bayinya mati dan sang kekasih masuk penjara. Wanita ini jatuh sakit karena penderitaan dan rasa rindu pada kekasihnya. Ketika hampir mati, kekasih yang dirindukannya muncul. Pertemuan yang mengharukan itu diselingi banyolan pelawak Oemar. Penyakit perempuan itu sembuh setelah mendengar nyanyian keroncong Ferry. Cerita diakhiri dengan adegan percintaan Oemar dan pelayan di atas pohon karet.
Catatan

Film bicara pertama yang dibuat oleh Halimoen Film. Pendekatan film ini adalah "tooneel Melajoe" yang dikenal baik oleh Wong maupun M.H. Schilling, rekan kerjasamanya. Schilling sendiri membuat film pendek "Sinjo Tjo Main di Film" yang diputar sebagai film pembuka. Dibuat dengan kamera yang paling mahal di Eropa. Menurut Joshua Wong, film ini dibuat dengan kamera yang dijadikan "single system camera" garapan orang Bandung, maksudnya kamera yang bisa merekam sekaligus gambar dan suara. Biar selebaran propagandanya menyebutkan "Tjeritanja menarik hati dan penoeh dengan keloecoean. Penonton tentoe misti ketawa terpingkel-pingkel dari permoela sampe pengabisan", ternyata film ini tidak laku. Penonton tampaknya tak suka melihat kenyataan pahit (kemelaratannya) sendiri di layar putih.


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Si Pitoeng

Produser: Wong Bersaudara
Sutradara: Wong Bersaudara
Penulis:
Pemeran: Herman Sim, Ining Resmini, Zorro
Warna: Hitam putih
Genre: Laga

Sinopsis

Tokoh jawara Betawi asli yang amat populer terutama lewat pentas lenong. Jagoan Rawabelong ini dipercaya bisa "menghilang", karena hampir selalu lolos dari kejaran polisi Belanda. Ia juga dianggap seperti Robin Hood: merampok orang kaya dan membagikan hasilnya untuk orang miskin.

Catatan

Difilmkan kembali pada 1970 dan tokoh ini sering muncul dalam berbagai judul dan kisah ini juga jadi pola untuk kisah-kisah film silat yang berlatar belakang Betawi.

Sumber :
- Doenia Film, th.III no.4
- Pikiran Rakyat, 7/2, 1976


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Sam Pek Eng Tay

Produser: The Teng Chun
Sutradara: The Teng Chun
Penulis: The Teng Chun
Pemeran:
Warna: Hitam putih
Genre: Drama

Sinopsis

Cerita cinta yang dibawa mati ini adalah tentang gadis Giok Eng Tay dengan perjaka Nio Sam Pek. Ayah Eng Tay, Giok Kong Wan, adalah seorang pejabat yang demi kedudukannya akan menikahkan putrinya dengan Ma Bun Cai, putra bupati kaya. Hubungan Sam Pek dan Eng Tay dipaksa putus. Eng Tay dikurung, sedang Sam Pek dianiaya anak buahnya. Luka amat parah membuat Sam Pek meninggal. Dalam perjalanan ke rumah Bun Cai, rombongan pengantin wanita berhenti di kuburan Sam Pek. Makam merekah, sementara hujan lebat turun dan angin bertiup kencang. Eng Tay menerjunkan diri ke kuburan Sam Pek. Hujan berhenti dan angin bertiup sepoi.
Catatan

Film ini cukup laku. Legenda Cina ini juga beredar dalam bentuk buku, ketoprak, drama, bahkan sandiwara radio.

Sumber : The Teng Chun (1972)

Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Sinjo "Tjo" Main Di Film

Produser: Wong Bersaudara
Sutradara: MH Schilling
Penulis:
Pemeran: Ida Schilling, MH Schilling
Warna: Hitam putih

Catatan

Merupakan film ekstra dari film "Indonesia Malaise". Ida Schilling adalah penyanyi radio. Ia menyanyikan lagu keroncong dan stambul.


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

No comments:

Post a Comment

FanPage Taste Of Knowledge

Popular Posts

My Twitter