Komputer_MOE !!!

Text

Selalu menyenangkan memiliki media baru untuk berekspresi. Dengan harapan agar menjadi panduan untuk meniti hari-hariku serta menyertai langkah-langkahku menyongsong indahnya dunia. Silakan tinggalkan komentar, apapun itu, demi kenyamanan dan kegembiraan yang bisa kau temui disini.

Info PENTING!

Selain Anda dapat membaca artikel berkualitas, Anda juga dapat menggunakan widget utility menarik lainnya di blog saya seperti Chat Via E-Buddy, SMS Gratis, Ataupun Menonton TV Streaming.

Dan kini Blog MyAkise sudah bisa di akses Via Mobile, Silahkan ketik link http://myakise.blogspot.com/?m=1 di perangkat mobile Anda.

Terima Kasih Dan Semoga Bermanfaat.

Monday, February 23, 2009

Film Indonesia - Tahun 1931

Atma De Vischer

Produser: G Krugers
Sutradara:
Penulis:
Pemeran:
Warna: Hitam putih

Sinopsis

film dokumenter ini menggambarkan perjalanan Ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag.

Catatan

Film ini merupakan film pertama Krugers yang bersuara. Catatan berdasarkan surat G Krugers pada TD Tio Jr.

Sumber : Surat G. Krugers pada T.D. Tio Jr.


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Boenga Roos dari Tjikembang

Produser: The Teng Chun
Sutradara: The Teng Chun
Penulis: Kwee Tek Hoay
Pemeran:
Warna: Hitam putih
Genre: Drama

Sinopsis

Oh Ay Ceng, pegawai perkebunan, terpaksa melepaskan Marsiti, kekasihnya yang setia, demi mengikuti kehendak ayahnya untuk kawin dengan Gwat Nio, putri pemilik perkebunan tempatnya bekerja. Marsiti sendiri mendorong Ay Ceng untuk patuh pada kehendak orangtua. Marsiti pergi dan meninggal. Ayah Gwat Nio membuka rahasia bahwa Marsiti itu adalah anaknya dari seorang piaraannya. Dari perkawinan Ay Cheng-Gwat Nio lahir Hoey Eng alias Lily yang tumbuh jadi gadis elok. Ia dipertunangkan dengan Sim Bian Koen, anak pemilik perkebunan Tjikembang. Sesaat sebelum perkawinan berlangsung, Lily meninggal. Bian Koen sangat masygul dan akan pergi ke Kanton untuk jadi tentara. Niat ini dihalangi Ay Cheng agar bisa menghadiri peringatan kematian Lily. Suatu hari menjelang keberangkatan ke Tiongkok, Bian Koen mengunjungi perkebunan Tjikembang dan sampai di pemakaman pribumi. Tiba-tiba ia berhadapan dengan "Lily". Terbukalah rahasia. Yang nampak oleh Bian Koen itu bukanlah Lily, tapi Roosminah, putri Marsiti dengan Ay Cheng. Roosminah akhirnya dipersunting Bian Koen.

Catatan

Kisah film ini aslinya karya Kwee Tek Hoay yang pertama-tama dimuat secara bersambung dalam majalah "Panorama" sejak Maret 1927, kemudian dipentaskan oleh Union Dalia Opera pada 1927. Film ini dikritik habis oleh Andjar Asmara (wartawan, penulis naskah sandiwara) karena suaranya buruk. The Teng Chun, anak eksportir hasil bumi (The Kiem Ie), belajar di San Fransisco. Di sini ia berkenalan dengan dunia film, dan menganjurkan agar ayahnya beralih usaha dengan mengimpor film Cina. Teng Chun meninggalkan sekolahnya dan pindah ke Shanghai untuk ikut-ikutan membuat film.

Sumber : The Teng Chun (1972)


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Indonesia Malaise

Produser: Wong Bersaudara
Sutradara: Wong Bersaudara
Penulis:
Pemeran: MS Ferry, Oemar
Warna: Hitam putih
Genre: Komedi

Sinopsis

Kisahnya tentang seorang gadis yang sudah punya kekasih, tapi dipaksa kawin dengan pria lain. Sang suami kemudian menyeleweng, sedang bayinya mati dan sang kekasih masuk penjara. Wanita ini jatuh sakit karena penderitaan dan rasa rindu pada kekasihnya. Ketika hampir mati, kekasih yang dirindukannya muncul. Pertemuan yang mengharukan itu diselingi banyolan pelawak Oemar. Penyakit perempuan itu sembuh setelah mendengar nyanyian keroncong Ferry. Cerita diakhiri dengan adegan percintaan Oemar dan pelayan di atas pohon karet.
Catatan

Film bicara pertama yang dibuat oleh Halimoen Film. Pendekatan film ini adalah "tooneel Melajoe" yang dikenal baik oleh Wong maupun M.H. Schilling, rekan kerjasamanya. Schilling sendiri membuat film pendek "Sinjo Tjo Main di Film" yang diputar sebagai film pembuka. Dibuat dengan kamera yang paling mahal di Eropa. Menurut Joshua Wong, film ini dibuat dengan kamera yang dijadikan "single system camera" garapan orang Bandung, maksudnya kamera yang bisa merekam sekaligus gambar dan suara. Biar selebaran propagandanya menyebutkan "Tjeritanja menarik hati dan penoeh dengan keloecoean. Penonton tentoe misti ketawa terpingkel-pingkel dari permoela sampe pengabisan", ternyata film ini tidak laku. Penonton tampaknya tak suka melihat kenyataan pahit (kemelaratannya) sendiri di layar putih.


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Si Pitoeng

Produser: Wong Bersaudara
Sutradara: Wong Bersaudara
Penulis:
Pemeran: Herman Sim, Ining Resmini, Zorro
Warna: Hitam putih
Genre: Laga

Sinopsis

Tokoh jawara Betawi asli yang amat populer terutama lewat pentas lenong. Jagoan Rawabelong ini dipercaya bisa "menghilang", karena hampir selalu lolos dari kejaran polisi Belanda. Ia juga dianggap seperti Robin Hood: merampok orang kaya dan membagikan hasilnya untuk orang miskin.

Catatan

Difilmkan kembali pada 1970 dan tokoh ini sering muncul dalam berbagai judul dan kisah ini juga jadi pola untuk kisah-kisah film silat yang berlatar belakang Betawi.

Sumber :
- Doenia Film, th.III no.4
- Pikiran Rakyat, 7/2, 1976


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Sam Pek Eng Tay

Produser: The Teng Chun
Sutradara: The Teng Chun
Penulis: The Teng Chun
Pemeran:
Warna: Hitam putih
Genre: Drama

Sinopsis

Cerita cinta yang dibawa mati ini adalah tentang gadis Giok Eng Tay dengan perjaka Nio Sam Pek. Ayah Eng Tay, Giok Kong Wan, adalah seorang pejabat yang demi kedudukannya akan menikahkan putrinya dengan Ma Bun Cai, putra bupati kaya. Hubungan Sam Pek dan Eng Tay dipaksa putus. Eng Tay dikurung, sedang Sam Pek dianiaya anak buahnya. Luka amat parah membuat Sam Pek meninggal. Dalam perjalanan ke rumah Bun Cai, rombongan pengantin wanita berhenti di kuburan Sam Pek. Makam merekah, sementara hujan lebat turun dan angin bertiup kencang. Eng Tay menerjunkan diri ke kuburan Sam Pek. Hujan berhenti dan angin bertiup sepoi.
Catatan

Film ini cukup laku. Legenda Cina ini juga beredar dalam bentuk buku, ketoprak, drama, bahkan sandiwara radio.

Sumber : The Teng Chun (1972)

Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Sinjo "Tjo" Main Di Film

Produser: Wong Bersaudara
Sutradara: MH Schilling
Penulis:
Pemeran: Ida Schilling, MH Schilling
Warna: Hitam putih

Catatan

Merupakan film ekstra dari film "Indonesia Malaise". Ida Schilling adalah penyanyi radio. Ia menyanyikan lagu keroncong dan stambul.


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Friday, February 13, 2009

Film Indonesia - Tahun 1930

De Stem Des Bloed (Njai Siti)

Produser: Kinowerk Carli, Ph Carli
Sutradara: Ph Carli
Penulis:
Pemeran: Annie Krohn, Sylvain, Elviera
Warna: Hitam putih
Genre: Drama

Sinopsis

Setelah 15 tahun di Eropa, van Kempen (Sylvain) kembali ke Jawa. Ia tak berhasil menemukan Nyai (istri piaraan) Siti serta kedua anaknya, Adolf dan Annie. Sekali waktu Ervine, anak tiri van Kempen yang dibawanya dari Eropa, nyaris celaka. Ia ditolong oleh Adolf. Kasih antara Adolf dan Ervine yang terjalin sesudahnya, membawa van Kempen kepada yang dicarinya selama ini: "istrinya" Siti serta kedua anaknya.

Catatan

Film bisu. Film ini terdiri dari 9 bagian dan film Indonesia pertama dengan panjang penuh. Pengambilan gambar dilakukan di Priangan dan Sumatera. Sebagian diberi warna tertentu.

Sumber:
- Panorama, th. 4, no. 168, 30/3, 1930
- Doenia Film, th.II, no. 6


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Karnadi Anemer Bangkong

Produser: G Krugers
Sutradara: G Krugers
Penulis:
Pemeran:
Warna: Hitam putih

Catatan

Film bisu. Menurut Joshua Wong, orang Indonesia marah terhadap film ini, karena diperlihatkan orang pribumi makan kodok. Judul film ini adalah menurut Moch Enoh.

Sumber : Pikiran Rakyat, 7/2, 1976.


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Lari Ka Arab


Produser: Wong Bersaudara
Sutradara: Wong Bersaudara
Penulis: Wong Bersaudara, Joshua Wong
Pemeran: Ining Resmini
Warna: Hitam putih




Catatan

Film bisu. Semula berjudul "Lari Ka Meka", tetapi Sensor melarang penggunaan nama kota Meka sebagai judul film, karena Meka nama kota suci orang Islam (Joshua Wong).

Sumber : Pikiran Rakyat, 7/2, 1976.


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Melati Van Agam (I dan II)


Produser: Tan Koen Yauw
Sutradara: Lie Tek Swie
Penulis: Parada Harahap
Pemeran: A Rachman, Neng Titi, Oemar, Bachtiar Effendy
Warna: Hitam putih
Genre: Drama

Sinopsis

Cerita ala Romeo dan Juliet ini berlangsung di Sumatera Barat. Kecantikan Norma menyebabkannya digelari Melati van Agam. Ia jatuh cinta pada Idrus, demikian pula sebaliknya. Tanpa sepengetahuan kedua kekasih itu, orang tua Norma telah menerima lamaran Nazarudin yang hartawan. Sesudah berumah tangga, Norma dibawa ke Kota Raja (Banda Aceh). Beberapa waktu kemudian Idrus sakit dan meninggal di Fort de Kock (Bukittinggi). Kecurigaan Nazarudin tak pernah berakhir. Anak yang dilahirkan Norma dianggap anak Idrus. Tuduhan ini membuat Norma merasa amat malu, lalu bunuh diri dan dikuburkan di sebelah makam Idrus.

Catatan

Film bisu. A. Rachman dan Oemar dari Padangsche Opera.
Sumber :
- Doenia Film, no.10 dan 12, th.II
- Panorama, th.IV no. 181, 10/8, 1930
- Panorama, th.V no. 198, 30/1, 1931

Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Njai Dasima (II)

Produser: Tan Koen Yauw
Sutradara: Lie Tek Swie
Penulis:
Pemeran: N Noerhani, Wim Lender, Anah, Momo
Warna: Hitam putih
Genre: Drama

Sinopsis

Kian lama kian dalam rasa sesal Dasima (N. Noerhani), karena meninggalkan tuannya (Wim Lender) dan anaknya Nancy (Anah) yang berusia 8 tahun. Harta yang dibawanya dari "rumah gedungnya" dikuras terutama oleh Hayati yang gila judi. Dasima berniat mengadukan nasibnya pada bekas tuannya. Samiun panik. Ia minta bantuan Bang Puasa (Momo) untuk membunuh Dasima. Karena ada saksi mata, tertangkaplah Bang Puasa dan Samiun. Pembunuh masuk penjara, Samiun dihukum buang.

Catatan

Film bisu. Biar telah di luar cerita baku, kisah populer ini "disambung" lagi dengan "Nancy Bikin Pembalesan" (Njai Dasima III).

Sumber : Panorama IV/166


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Nancy Bikin Pembalesan (Njai Dasima III)

Produser: Tan Koen Yauw
Sutradara: Lie Tek Swie
Penulis:
Pemeran:
Warna: Hitam putih
Genre: Drama

Sinopsis

Edward William kembali ke Hindia Belanda dari Eropa, untuk mengelola sebuah perkebunan di Banten. Ia disertai anaknya dari Dasima, Nancy. Setiba di Batavia, ia mendapat kabar bahwa Samiun (pembunuh Dasima) telah pulang dari hukuman buangnya. Nancy bermimpi jumpa Dasima, yang minta agar dia membuat pembalasan pada Samhiun dan istrinya, Hayati. Samiun jatuh ke jurang, dan Hayati tertusuk pisaunya sendiri.

Catatan

Film bisu. Judul semula adalah "Pembalesan Nancy".

Sumber:
- Doenia Film, th. II, no 10 dan 12, 1930
- Panorama, IV/175, 10/6, 1930

Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Si Ronda

Produser: Tan Koen Yauw
Sutradara: Lie Tek Swie
Penulis:
Pemeran: Bachtiar Effendy, Momo
Warna: Hitam putih

Sinopsis

Kisah jagoan Betawi yang tidak jauh berbeda dengan kisah Si Jampang dan Si Pitung. Lihat juga "Si Ronda Macan Betawi" (1978).
Catatan

Cerita ini juga sebuah repertoir panggung dan Gambang Kromong.

Sumber : Bachtiar Effendy

Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Tuesday, February 03, 2009

Film Indonesia - Tahun 1929

Njai Dasima (I)

Produser: Tan Koen Yauw
Sutradara: Lie Tek Swie
Penulis:
Pemeran: N Noerhani, Anah, Wim Lender, Momo
Warna: Hitam putih
Genre: Drama

Sinopsis

Kisah seorang nyai (istri piaraan) ini sangat terkenal berkat buku yang terbit 1896, dan kemudian dipopulerkan melalui sandiwara dan lenong. Seorang gadis asal Kuripan, Bogor, Dasima,"diperistri" oleh orang Inggris bernama Edward William alias Tuan We. Semula ia tinggal di Tangerang, kemudian pindah ke Betawi/Jakarta. Ia jadi terkenal karena kecantikan dan kekayaannya. Salah seorang yang tertarik adalah Samiun, yang sudah punya istri Hayati. Nyai Dasima dibujuk oleh Mak Buyung untuk meninggalkan "tuannya". Namun, sesudah jadi istri muda Samiun, ia disia-siakan.

Catatan

Film bisu. Cerita dibuat menjadi dua bagian. Bagian pertama dibuat September-Oktober 1929. Kisah ini berdasarkan cerita nyata yang terjadi di Tangerang dan Betawi antara 1813-1820an. Dasar cerita film ini diambil dari karangan G. Francis (1896). Ini versi layar putih yang pertama. Tujuan Tan's Film membuat film terutama untuk bisa menarik perhatian "penonton-penonton Boemipoetra dari klas moerah".

Sumber : Doenia Film Th.I, no. 10, 15/11, 1929.

Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Rampok Preanger

Produser: Nelson Wong
Sutradara: Nelson Wong
Penulis: Wong Bersaudara
Pemeran: Ining Resmini, MS Ferry
Warna: Hitam putih

Catatan

Ining Resmini (1909-1978) adalah penyanyi keroncong yang populer di Bandung.

Sumber : Wawancara dengan Joshua dan Othniel Wong, 1972.


Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Si Tjonat

Produser: Nelson Wong, Jo Eng Sek
Sutradara: Nelson Wong
Penulis: FDJ Pangemanan
Pemeran: Lie A Tjip, Ku Fung May, Herman Sim
Warna: Hitam putih
Genre: Laga

Sinopsis

Nakal sejak kecil, si Tjonat (Lie A Tjip) melarikan diri ke Batavia (Jakarta) setelah membunuh temannya. Di kota ini ia menjadi jongos seorang Belanda, tapi kerjanya menggerogoti harta nyai tuan itu. Kemudian ia jadi perampok dan jatuh cinta pada Lie Gouw Nio (Ku Fung May). Karena menolak, Tjonat berusaha membawa lari Gouw Nio. Usaha jahat itu dicegah oleh Thio Sing Sang (Herman Sim) yang gagah perkasa.

Catatan

Bisu. Sebetulnya cerita ini fiktif, tapi oleh pengarangnya dikatakan "betoel soeda kadjadian di djaman doeloe". Ceritanya pertama kali dimuat secara bersambung di surat kabar "Perniagaan" tahun 1903. Film ini dibuat dalam dua seri.

Sumber: Panorama th IV no 173, 20/5, 1930

Courtesy Of : Www.FilmIndonesia.Or.Id

Popular Posts

Berlangganan Artikel Via Feedblitz

Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz

SMS Gratis! Silahkan...


Make Widget

My Twitter

FanPage Taste Of Knowledge

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...