Friday, March 01, 2013

Resensi Buku - "Tiga Manula" Dalam Lanskap Dunia Komik Indonesia




LANSKAP dunia komik Indonesia kedatangan bukan hanya satu, tapi tiga wajah baru. Ketiganya memiliki kesamaan: sama-sama manula. Manula itu kependekan dari MANusia Usia LAnjut, sebuah istilah yang lahirnya berbarengan dengan singkatan Balita dari Dinas Kesehatan (dinkes). Istilah ini boleh dibilang sudah ‘kuno’ dan ‘tak lagi dipakai’. Banyak yang keberatan dengan pemakaian kata ‘manula’ yang dinilai kasar.

Di UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, istilah ‘manula’ sudah diganti dengan bahasa resmi Lanjut Usia atau biasa disingkat Lansia. Biasa lah, ganti menteri, ganti kebijakan, ganti cara panggil. Tapi semua merujuk hal yang sama: orang yang biasa kita panggil kakek, mbah, engkong, dll. Masyarakat Indonesia memiliki cara pandang unik pada generasi ini. Secara antropologis, kedudukan generasi ini seringkali didudukkan sebagai orang yang perlu didengar pendapatnya.

Itu sebabnya, barangkali Benny Rachmadi, menaruh tiga karakter ini dalam rentang umur yang renta. Ketiganya berusia 70 tahunan dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda: Mbah Waluyo (76 tahun), Engkong Sanip (72 tahun) dan Liem (68 tahun), lengkap dengan karakter dan visual yang berbeda. Celotehan mereka bukan sekedar banyolan, tetapi sebuah upaya reflektif.

Apa yang hendak direfleksikan? Dalam kisah “Jalan-Jalan ke Singapura” ini, Liem mentraktir kedua sahabatnya, Waluyo dan Sanip, jalan-jalan ke negeri tetangga, Singapura. Tentu ini suatu pengalaman baru Sanip dan Waluyo karena seumur hidup mereka belum pernah sekalipun keluar negeri. Entah apa alasannya. Barangkali ekonomi.

Geger terjadi. Masyarakat modern dan sedinamis Singapura, harus kedatangan tiga karakter yang polos dan ‘ndeso’. Keluarlah minyak angin PPO yang membuat seluruh pesawat mabok, rokok klembak menyan yang baunya disangka mariyuana, mandi di kolam Merlion, nyebrang jalan, dll.
Tapi sendeso dan sepolosnya tiga manula itu, tetap kita bisa mendapat wejangan, bukan sekedar sindiran tentang manusia Indonesia. Jangan konsumtif seperti orang-orang yang menghamburkan uang di Orchard Road. Jangan gila gadget. Hormati orang tua dengan memberi hak duduk nyaman di MRT. Indonesia memang perlu berkaca dari Singapura. Dari sana, saya kemudian paham kenapa settingnya harus di Singapura. Karena bila meletakkan tiga karakter baru itu di Jakarta, kita hanya akan menganggap tiga manula ini tak lebih dari kakek-kakek nyinyir.

Siapa pencipta tiga karakter ini? Tak lain tak bukan adalah Benny Rachmadi. Betul, ini karyanya terbaru selepas 100 Peristiwa. Masih jeli, masih reflektif. Satu hal yang perlu disoroti sebagai keberhasilan Benny Rachmadi adalah tidak terjebaknya Benny untuk menstereotipekan tiga karakter ini. Tidak kita temukan kata-kata selipan bahasa Tionghoa, Betawi, atau Jawa di sini. Semua tampil sama: wajah dan pribadi Indonesia.

Catatan kekurangan ada pada kurang mengeksplorasi saat Tiga Manula mengurus paspor, pastinya Benny bisa mengkritik pihak imigrasi yang rakus uang. Juga urusan di Bandara lengkap dengan segala kerepotan pemeriksaan X-ray hingga kapal tidak pernah on-time.

DETIL BUKU
Tiga Manula: Jalan-Jalan ke Singapura
karya Benny Rachmadi
Terbit Desember 2011 oleh Penerbit KPG
Binding: Paperback
ISBN: 9789799104045
Halaman: 92
Rating: 3/5
LANSKAP dunia komik Indonesia kedatangan bukan hanya satu, tapi tiga wajah baru. Ketiganya memiliki kesamaan: sama-sama manula. Manula itu kependekan dari MANusia Usia LAnjut, sebuah istilah yang lahirnya berbarengan dengan singkatan Balita dari Dinas Kesehatan (dinkes). Istilah ini boleh dibilang sudah ‘kuno’ dan ‘tak lagi dipakai’. Banyak yang keberatan dengan pemakaian kata ‘manula’ yang dinilai kasar.
Di UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, istilah ‘manula’ sudah diganti dengan bahasa resmi Lanjut Usia atau biasa disingkat Lansia. Biasa lah, ganti menteri, ganti kebijakan, ganti cara panggil. Tapi semua merujuk hal yang sama: orang yang biasa kita panggil kakek, mbah, engkong, dll. Masyarakat Indonesia memiliki cara pandang unik pada generasi ini. Secara antropologis, kedudukan generasi ini seringkali didudukkan sebagai orang yang perlu didengar pendapatnya.
Itu sebabnya, barangkali Benny Rachmadi, menaruh tiga karakter ini dalam rentang umur yang renta. Ketiganya berusia 70 tahunan dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda: Mbah Waluyo (76 tahun), Engkong Sanip (72 tahun) dan Liem (68 tahun), lengkap dengan karakter dan visual yang berbeda. Celotehan mereka bukan sekedar banyolan, tetapi sebuah upaya reflektif.
Apa yang hendak direfleksikan? Dalam kisah “Jalan-Jalan ke Singapura” ini, Liem mentraktir kedua sahabatnya, Waluyo dan Sanip, jalan-jalan ke negeri tetangga, Singapura. Tentu ini suatu pengalaman baru Sanip dan Waluyo karena seumur hidup mereka belum pernah sekalipun keluar negeri. Entah apa alasannya. Barangkali ekonomi.
Geger terjadi. Masyarakat modern dan sedinamis Singapura, harus kedatangan tiga karakter yang polos dan ‘ndeso’. Keluarlah minyak angin PPO yang membuat seluruh pesawat mabok, rokok klembak menyan yang baunya disangka mariyuana, mandi di kolam Merlion, nyebrang jalan, dll.
Tapi sendeso dan sepolosnya tiga manula itu, tetap kita bisa mendapat wejangan, bukan sekedar sindiran tentang manusia Indonesia. Jangan konsumtif seperti orang-orang yang menghamburkan uang di Orchard Road. Jangan gila gadget. Hormati orang tua dengan memberi hak duduk nyaman di MRT. Indonesia memang perlu berkaca dari Singapura. Dari sana, saya kemudian paham kenapa settingnya harus di Singapura. Karena bila meletakkan tiga karakter baru itu di Jakarta, kita hanya akan menganggap tiga manula ini tak lebih dari kakek-kakek nyinyir.
Siapa pencipta tiga karakter ini? Tak lain tak bukan adalah Benny Rachmadi. Betul, ini karyanya terbaru selepas 100 Peristiwa. Masih jeli, masih reflektif. Satu hal yang perlu disoroti sebagai keberhasilan Benny Rachmadi adalah tidak terjebaknya Benny untuk menstereotipekan tiga karakter ini. Tidak kita temukan kata-kata selipan bahasa Tionghoa, Betawi, atau Jawa di sini. Semua tampil sama: wajah dan pribadi Indonesia.
Catatan kekurangan ada pada kurang mengeksplorasi saat Tiga Manula mengurus paspor, pastinya Benny bisa mengkritik pihak imigrasi yang rakus uang. Juga urusan di Bandara lengkap dengan segala kerepotan pemeriksaan X-ray hingga kapal tidak pernah on-time.
DETIL BUKU
Tiga Manula: Jalan-Jalan ke Singapura
karya Benny Rachmadi
Terbit Desember 2011 oleh Penerbit KPG
Binding: Paperback
ISBN: 9789799104045
Halaman: 92
Rating: 3/5
- See more at: http://alineatv.com/2012/03/01/timbangan-tiga-manula/#sthash.OPcIhBho.dpuf
LANSKAP dunia komik Indonesia kedatangan bukan hanya satu, tapi tiga wajah baru. Ketiganya memiliki kesamaan: sama-sama manula. Manula itu kependekan dari MANusia Usia LAnjut, sebuah istilah yang lahirnya berbarengan dengan singkatan Balita dari Dinas Kesehatan (dinkes). Istilah ini boleh dibilang sudah ‘kuno’ dan ‘tak lagi dipakai’. Banyak yang keberatan dengan pemakaian kata ‘manula’ yang dinilai kasar.
Di UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, istilah ‘manula’ sudah diganti dengan bahasa resmi Lanjut Usia atau biasa disingkat Lansia. Biasa lah, ganti menteri, ganti kebijakan, ganti cara panggil. Tapi semua merujuk hal yang sama: orang yang biasa kita panggil kakek, mbah, engkong, dll. Masyarakat Indonesia memiliki cara pandang unik pada generasi ini. Secara antropologis, kedudukan generasi ini seringkali didudukkan sebagai orang yang perlu didengar pendapatnya.
Itu sebabnya, barangkali Benny Rachmadi, menaruh tiga karakter ini dalam rentang umur yang renta. Ketiganya berusia 70 tahunan dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda: Mbah Waluyo (76 tahun), Engkong Sanip (72 tahun) dan Liem (68 tahun), lengkap dengan karakter dan visual yang berbeda. Celotehan mereka bukan sekedar banyolan, tetapi sebuah upaya reflektif.
Apa yang hendak direfleksikan? Dalam kisah “Jalan-Jalan ke Singapura” ini, Liem mentraktir kedua sahabatnya, Waluyo dan Sanip, jalan-jalan ke negeri tetangga, Singapura. Tentu ini suatu pengalaman baru Sanip dan Waluyo karena seumur hidup mereka belum pernah sekalipun keluar negeri. Entah apa alasannya. Barangkali ekonomi.
Geger terjadi. Masyarakat modern dan sedinamis Singapura, harus kedatangan tiga karakter yang polos dan ‘ndeso’. Keluarlah minyak angin PPO yang membuat seluruh pesawat mabok, rokok klembak menyan yang baunya disangka mariyuana, mandi di kolam Merlion, nyebrang jalan, dll.
Tapi sendeso dan sepolosnya tiga manula itu, tetap kita bisa mendapat wejangan, bukan sekedar sindiran tentang manusia Indonesia. Jangan konsumtif seperti orang-orang yang menghamburkan uang di Orchard Road. Jangan gila gadget. Hormati orang tua dengan memberi hak duduk nyaman di MRT. Indonesia memang perlu berkaca dari Singapura. Dari sana, saya kemudian paham kenapa settingnya harus di Singapura. Karena bila meletakkan tiga karakter baru itu di Jakarta, kita hanya akan menganggap tiga manula ini tak lebih dari kakek-kakek nyinyir.
Siapa pencipta tiga karakter ini? Tak lain tak bukan adalah Benny Rachmadi. Betul, ini karyanya terbaru selepas 100 Peristiwa. Masih jeli, masih reflektif. Satu hal yang perlu disoroti sebagai keberhasilan Benny Rachmadi adalah tidak terjebaknya Benny untuk menstereotipekan tiga karakter ini. Tidak kita temukan kata-kata selipan bahasa Tionghoa, Betawi, atau Jawa di sini. Semua tampil sama: wajah dan pribadi Indonesia.
Catatan kekurangan ada pada kurang mengeksplorasi saat Tiga Manula mengurus paspor, pastinya Benny bisa mengkritik pihak imigrasi yang rakus uang. Juga urusan di Bandara lengkap dengan segala kerepotan pemeriksaan X-ray hingga kapal tidak pernah on-time.
DETIL BUKU
Tiga Manula: Jalan-Jalan ke Singapura
karya Benny Rachmadi
Terbit Desember 2011 oleh Penerbit KPG
Binding: Paperback
ISBN: 9789799104045
Halaman: 92
Rating: 3/5
- See more at: http://alineatv.com/2012/03/01/timbangan-tiga-manula/#sthash.OPcIhBho.dpuf

No comments:

Post a Comment

FanPage Taste Of Knowledge

Popular Posts

My Twitter