Komputer_MOE !!!

Text

Selalu menyenangkan memiliki media baru untuk berekspresi. Dengan harapan agar menjadi panduan untuk meniti hari-hariku serta menyertai langkah-langkahku menyongsong indahnya dunia. Silakan tinggalkan komentar, apapun itu, demi kenyamanan dan kegembiraan yang bisa kau temui disini.

Info PENTING!

Selain Anda dapat membaca artikel berkualitas, Anda juga dapat menggunakan widget utility menarik lainnya di blog saya seperti Chat Via E-Buddy, SMS Gratis, Ataupun Menonton TV Streaming.

Dan kini Blog MyAkise sudah bisa di akses Via Mobile, Silahkan ketik link http://myakise.blogspot.com/?m=1 di perangkat mobile Anda.

Terima Kasih Dan Semoga Bermanfaat.

Wednesday, March 28, 2012

Sepotong Cerita Sejarah Tentang Bandung



Kolonialisme yang dilakukan Belanda bersifat non-asimilasi. Artinya, orang Belanda tidak mau banyak terlibat langsung dengan pribumi. Bandingkan dengan kolonialisme Portugis, Orang Portugis berbaur akrab dengan pribumi. Jika melihat Timor Leste sekarang banyak warga lokal bernama Barat.
Pemerintah Hindia Belanda (HB) membagi kelas sosial, yaitu Belanda asli, Bangsa Arab atau Cina, Pribumi Ningrat, dan Pribumi jelata. Tempat tinggal mereka saja beda wilayah. Bandung Utara untuk orang Belanda dan Bandung Selatan untuk kaum pribumi. Makanya gak heran di Bandung Utara (Dago, Cipaganti dan sebagainya) bagus-bagus bangunannya. Itu simbol kejayaan kolonialisme Belanda di Bandung, Meneer.
Sebagai anak muda, kita perlu pemikiran kritis tentang wilayah historis Bandung yang suka banyak dibanggakan orang-orang itu. Bukan tidak boleh suka dengan Bandung Utara, tapi lirik jua lah Bandung Selatan. Di sana itu letak semangat lokal pribumi.
Ada yang tau Centrum? Itu tuh, kolam renang di Jalan Belitung, sebelah SMAN 5 Bandung  Sekarang jadi tempat makan. Di Centrum tertulis 'Verboden voor honden en inlander', artinya telarang untuk anjing dan pribumi. What? Kita ditulis setelah nama binatang. Itu artinya... Artikan saja sendiri. Ini sangat menyinggung kaum pribumi. Begitulah sepenggal cerita Bandung Utara dan Bandung Selatan masa kolonial.
Lapangan sepak bola di Bandung pada masa Hindia Belanda lagi-lagi terbagi untuk kaum pribumi dan Belanda. Kalau dulu, kaum pribumi bermain sepak bola suka di Lapangan Tegalega dan Lapangan Ciroyom. Lapangan sepakbola yang saat itu bergengsi digunakan oleh klub orang Belanda. Misalnya  Lapangan UNI di Karapitan, Sidolig, dan Sparta (Siliwangi).
Klub sepakbola lokal pribumi baru ada pada 1923, bernama BIVB (Bandoeng Indlansche Voetbal Bond). Kalau yang Belanda sudah ada sejak sebelum itu. BIVB kemudian menghilang. Namun muncul klub sepakbola lokal lain, yaitu PSIB & NVB. PSIB (Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung) & Nationaal Voetbal Bond (NVB) kemudian bersatu pada 14 Maret 1933, dan lahirlah PERSIB. Klub besar yang terdiri dari orang Belanda pada saat itu bernama VBBO (Voetbal Bond Bandoeng en Omstreken). PERSIB yang suka berlatih di Tegallega dan Ciroyom sering kali direndahkan oleh VBBO yang berlatih di Uni dan Sidolig. Ini bukan tentang sepakbola semata, Bung! Ini nasionalisme! Enak saja klub sepakbola yang isinya orang Belanda merendahkan warga Bandung. Kemudian PERSIB dan VBBO bersaing. Persaingan ini dimenangkan oleh... PERSIB! PERSIB dapat membuktikan bahwa mereka lebih baik. Akhirnya, lapangan-lapangan sepakbola yang biasa dipakai oleh orang-orang Belanda, seperti Uni dan Sidolig, dapat pula dipakai oleh PERSIB.
Demikian cerita nasionalisme pemuda Bandung pada masa kolonial yang dimanifestasikan melalui sepakbola. Anak muda Bandung sekarang harus lebih keren.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Berlangganan Artikel Via Feedblitz

Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz

SMS Gratis! Silahkan...


Make Widget

My Twitter

FanPage Taste Of Knowledge

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...