Komputer_MOE !!!

Text

Selalu menyenangkan memiliki media baru untuk berekspresi. Dengan harapan agar menjadi panduan untuk meniti hari-hariku serta menyertai langkah-langkahku menyongsong indahnya dunia. Silakan tinggalkan komentar, apapun itu, demi kenyamanan dan kegembiraan yang bisa kau temui disini.

Info PENTING!

Selain Anda dapat membaca artikel berkualitas, Anda juga dapat menggunakan widget utility menarik lainnya di blog saya seperti Chat Via E-Buddy, SMS Gratis, Ataupun Menonton TV Streaming.

Dan kini Blog MyAkise sudah bisa di akses Via Mobile, Silahkan ketik link http://myakise.blogspot.com/?m=1 di perangkat mobile Anda.

Terima Kasih Dan Semoga Bermanfaat.

Sunday, April 15, 2012

Resensi Film City Of God


Poster film City of God
Judul Film : City Of God


Judul Asli : Cidade de Deus


Pemain : Alexandre Rodriguez, Leandro Fermino, Phellipe Haagensen


Sutradara : Fernando Merelles


Penulis Naskah : Braulio Mantovani (screenplay), Paulo Lins (Novel)


Produksi : 02 Film


Oke... Malam ini saya telah melahap lagi sebuah film yang berjudul City of God. Kota di Brazil yang didalamnya penuh dengan senjata, obat terlarang dan kekerasan. Remaja dan anak-anak sekalipun telah menyentuh ketiga unsur ini. Mungkin bagi setiap kota besar pada umumnya ada ketiga unsur ini.


Film ini diangkat dari kisah nyata Rocket dalam film ini diperan oleh Alexandre Rodriguez. Rocket seorang fotografer muda adik dari Goose salah seorang dari Trio Mortes Gengster kecil di kota kecil tersebut pada tahun 60-an. Bersama dengan 2 temannya yang lain, Hairy dan Snatcher serta ditemani oleh Kid  (adik dari hairy) dan Benny mereka melakukan perampokan. Hingga akhirnya Trio Mortes berhenti sejak terjadinya perampokan yang dilakukan oleh mereka, namun sebuah pembunuhan mampu dilakukan oleh Kid sendiri sehingga membuat Trio Mortez menjadi buronan.


Disini saya melihat karakter anak-anak seperti Kid mampu membunuh dengan mudahnya sungguh tidak mengherankan. Dia dibesarkan dilingkungan yang sudah terbiasa melihat senjata dan kekerasan. Karakter pada dirinya pun terbangun dari yang biasa dia lihat. Seorang anak itu seperti cermin yang mengikuti perbuatan orang dewasa disekitarnya, jika dia besar dilingkungan terpelajar dia akan menjadi sosok terpelajar pula, namun jika dia besar dilingkungan yang terbiasa dengan kekerasan dia akan menjadi sosok yang kasar pula. Difilm ini banyak karakter yang seperti Kid, kurang pengawasan oleh orang tua (keluarga) nya sehingga tidak mampu mengontrol perkembangan si anak. Pendidikan awal seorang anak sebenarnya diawali oleh keluarga, lingkungan kemudian sekolah. Sekolah hanya memiliki waktu yang sedikit untuk mendidik perkembangan anak. Keluarga adalah penyaring, penilai benar atau salah yang kita tangkap dari lingkungan kita, Pada hakikatnya keluarga memiliki nilai-nilai yang di anggap benar dalam lingkup keluarga itu sendiri. Jadi, jika kita sendiri tak pernah meluangkan waktu pada anak kita, jangan heran jika anak tersebut berubah sesuai pada lingkungan mereka hidup sehari-harinya.


Berbeda dengan Kid, Rocket adalah sosok yang sangat tidak menyukai kekerasan, dia lebih memilih  untuk tidak mengikuti semua yang dilihat di lingkungannya, Senjata, obat terlarang dan kekerasan. Bahkan kakaknya sendiri pun tak ingin di ikuti. Dia juga lebih memilih kamera dari pada memiliki senjata.


10 tahun kemudian sosok Kid yang dulunya kecil telah tumbuh dewasa dan telah berganti nama menjadi (Leandro Fermino) Ze. Cita-citanya dulu telah tercapai menjadi seorang gangster dikotanya bersama teman kecilnya dulu, (Phellipe Haagensen) Benny. Berdua mereka menjadi penjual obat terlarang terbaik di kotanya, dengan bantuan polisi tentunya sebagai sosok pelindung dari bisnisnya ini. 


Disini saya melihat, jika kita ingin terlindung dari hukum kita harus memiliki si penghukum itu. Ze dan Benny dapat terlindung dari hukum dikotanya karena dia memiliki sosok penghukum tersebut di tangannya. Ibarat permainan anak-anak monopoly di Indonesia, jika tak ingin masuk penjara kita harus memiliki kartu bebas penjara dan itu diterapkan oleh mereka dan para pegiat kejahatan di kota-kota lainnya.


Di film ini sangat menggambarkan pula keadaan seorang yang kecanduan obat terlarang berada ditangan penjual obat terlarang itu. awalnya hanya mencoba pemberian teman, kemudian menggunakan uang pribadinya, jika uang pribadinya telah habis mulai menjual barang-barang pribadinya dan seisi rumah. Perlahan namun pasti semakin kau kecanduan, semakin kau memperkaya si penjual obat tersebut.

Di film ini yang dapat dipelajari juga tentang peraturan. Pada suatu bagian setelah kematian Benny kota menjadi terasa panas bagi dua kubu penjual, Ze dan Redhead. Redhead mempunyai seorang anggota baru yang dendam kepada Kid karena telah membunuh adiknya dan memperkosa pacarnya, Ned nama anggota baru itu. Dia tidak ingin menjadi perampok dan membunuh seperti kelompok Redhead. Suatu ketika dia melakukan perampokan namun peraturannya tak ingin melakukan pembunuhan. Pada perampokan kedua dia diselamatkan oleh Redhead yang membunuh karna ingin menyelamatkan Ned yang ingin ditembak, yang berarti ada pengecualian dalam peraturan. Perampokan ketiga pengecualian telah menjadi peraturan, boleh membunuh orang yang mengancam. kemudian saya teringat salah satu definisi kebenaran, kebenaran adalah kesalahan yang berulang. Kita melakukan kesalahan, terbiasa, kemudian membenarkan kebiasaan yang salah tersebut.

Diakhir film ini peran Rocket semakin diperjelas. Rocket yang sering mengantarkan koran di sebuah media cetak dikota itu tanpa sengaja hasil fotonya yang berisi foto-foto kelompok Ze dimuat menjadi Headine. Sejak saat itu dia diangkat menjadi fotografer dan diutus meliput perkembangan kota itu. Hingga akhirnya foto terbaiknya adalah gambar kematian Ze dan aksi penyuapan yang dilakukan kelompok Ze kepada polisi. Sekali lagi media menjadi bahasa kebenaran,  bukan karena mengedepankan komersil dari berita tersebut, tapi Rocket menjadikan kamera sebagai bahasa kebenaran.

Film yang menggambarkan realita sosial masyarakat di kota yang memiliki penegakan hukum yang lemah terhadap aksi suap-menyuap dan membuat sebuah kesalahan menjadi mengakar kepada penerus masa depannya kelak. Media cetak disini sebagai media perantara yang membahasakan  kebenaran agar terjadinya sebuah perubahan. Tanpa adanya media mungkin aksi suap-menyuap dibagian penegak hukum sampai saat ini takkan terungkap. Media seharusnya seperti ini tidak berpihak kepada golongan tertentu.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Berlangganan Artikel Via Feedblitz

Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz

SMS Gratis! Silahkan...


Make Widget

My Twitter

FanPage Taste Of Knowledge

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...