Tuesday, February 01, 2011

Kisah Harga Minyak Dari US$ 2 Ke US$ 100

Jakarta - Harga minyak mentah dunia baru saja menembus US$ 100 per barel, untuk pertama kalinya setelah 2 tahun terakhir. Para pialang khawatir kerusuhan di Mesir bisa mengganggu suplai minyak dari Timur Tengah sehingga membuat harga minyak terus membubung tinggi.

Filip Petersson, analis dari SEB Commodity Research mengatakan, ancaman di Terusan Suez dan Suez-Mediterranean oil pipeline (SUMED) bisa terus melontarkan harga minyak mentah dunia.

"Karena adanya ketidakpastian di Terusan Suez, jalyr pipa SUMED dan menyebarnya kekisruhan politik di kawasan itu, kami melihat risiko premium akan disesuaikan," jelas Petersson seperti dikutip dari AFP, Selasa (1/2/2011).

Mesir memang bukanlah produsen minyak utama dunia, namun merupakan lokasi dari Terusan Suez yang penting untuk mengalirkan 2,4 juta barel miyak per hari setara dengan produksi minyak Irak atau Brasil. Pihak Mesir sudah menegaskan kalan tersebut masih beroperasi dengan kapasitas penuh, namun pemogokan dan kerusuhan telah menyebabkan pengapalan minyak raksasa seperti AP Moller-Maersk menghentikan operasionalnya sementara waktu di negara tersebut.

Pada perdagangan Senin (31/1/2011), di bursa London, harga minyak ICE Brent untuk kontrak Maret ditutup naik US$ 1,59 per barel ke level US$ 101,73 per barel. Ini adalah kenaikan harga terbesar sejak Oktober 2008. Sementara minyak WTI light sweet di pasar New York untuk pengiriman Maret naik hingga 2,85 dolar menjadi US$ 93,19 per barel.

Ini memang bukan pertama kalinya harga minyak menembus US$ 100 per barel. Dua tahun lalu, seiring krisis global, harga minyak mentah dunia sempat menembus rekor tertingginya di US$ 147 per barel.

Berikut kisah 40 tahun harga minyak mentah dunia dari hanya US$ 2 per barel hingga kini bertengger ke level US$ 100 per barel.


* 1970: Harga minyak mentah resmi Arab Saudi dipatok US$ 1,80 per barel.
* 1974: Harga minyak menembus US$ 10 per barel karena adanya guncangan minyak yang dipicu perang Arab-Israel pada Oktober 1973.
* 1979: Revolusi Iran menyebabkan harga minyak terguncang menembus US$ 20 per barel.
* 1980: Harga minyak tembus US$ 30 dan di awal 1981 sempat ke US$ 39 per barel seiring perang Iran-Irak.
* September-Oktober 1990: Irak menginvasi Kuwait sehingga harga menembus US$ 40 per barel.
* Agustus 2005: Harga minyak menembus US$ 70 per barel akibat badai Katrina mengamuk di Teluk Meksiko dan merusak fasilitas minyak.
* 2 Januari 2008: Harga minyak untuk pertama kalinya menembus US$ 200 per barel seiring kekisruhan di Nigeria, konflik di Pakistan dan gangguan suplai di AS.
* 13 Maret 2008: Harga minyak light menembus US$ 110 per barel karena spekulasi melemahnya dolar dan berkurangnya permintaan dari China dan India.
* Mei-Juni 2008: Dalam 2 bulan, harga minyak bergerak cepat dari US$ 120, US$ 130 dan US$ 140 per barel seiring membaiknya outlook ekonomi AS, turunnya cadangan minyak AS dan meningkatnya permintaan China.
* 6 Juni 2008: Harga minyak light sweet melonjak 10,75 dolar, yang merupakan kenaikan harian terbesar. Harga menembus US$ 139,12 karena kekhawatiran serangan Israel ke Iran.
* 11 Juli 2008: Harga minyak mengamuk ke US$ 147,50 per barel di London dan US$ 147,27 per barel di New York.
* Juli-Desember 2008: Harga minyak meluncur drastis di bawah US$ 100 akibat koreksi brutal setelah lonjakan tajam.
* 19 Desember 2008: Harga minyak tumbang ke US$ 32,40 per barel yang merupakan titik terendahnya dalam 5 tahun terakhir akibat kolapsnya Lehman Brothers.
* Januari-Juni 2009: Harga minyak naik dan stabil di US$ 60 per barel pada Mei dan US$ 70 pada Juni seiring membaiknya permintaan global.
* 2010: Harga minyak terus menguat seiring membaiknya perekonomian global. Harga minyak menutup akhir tahun di level US$ 93 di London dan hampir US$ 90 di New York.
* Januari 2010: Minyak Brent menembus US$ 101 per barel.


(qom/qom)

Sumber : Detik Finance

No comments:

Post a Comment

FanPage Taste Of Knowledge

Popular Posts

My Twitter